Prisma

Kredit Produksi di Kalangan Petani di Jawa*

Melalui Bank Rakyat Indonesia, pemerintah menyediakan kredit produksi bagi kaum tani. Dilaksanakan dalam kerjasama dengan Bimas, program intensifikasi padi pemerintah, BRI membantu petani dalam 1. mendapatkan input yang digunakan oleh petani bilamana mereka mengikuti cara-cara produksi padi yang dianjurkan, dan 2. memenuhi berbagai kebutuhan konsumsi keluarga selama masa paceklik sebelum panen.1

Para petani yang memenuhi syarat menerima kredit dalam bentuk 1. paket standar dari input pertanian, dan 2. bantuan uang tunai sekadarnya untuk konsumsi. Kredit BRI terdiri dari kombinasi standar dari barang-barang ini bagi tiap hektar sawah.2 Besarnya pinjaman tergantung pada luasnya sawah yang diolah petani. Jangka waktu pinjaman berkisar sekitar 7 bulan, sedikit lebih lama daripada musim tanam. Petani membayar satu persen tiap bulan untuk tiap pinjaman, dan harus melunasi pinjaman segera sesudah tanaman dituai. BRI adalah salah satu dari beberapa program pemerintah yang memberikan kredit kepada petani dan para penduduk desa lainnya.3 Tiap lembaga masyarakat ini berkerjasama dengan beberapa lembaga swasta yang juga menyediakan kredit di daerah-daerah pedesaan.

Dalam melaksanakan program itu, BRI menciptakan prosedur alokasi dan penagihan yang ada hubungannya dengan masalah-masalah kebijaksanaan yang sangat penting sifatnya dan menarik perhatian umum. Masalah-masalah ini mencakup 1. distribusi kredit di kalangan petani yang nilai tanahnya relatif kecil dan kalangan petani yang nilai tanahnya lebih tinggi, 2. waktu pembayaran kembali, 3. bentuk pemberian pinjaman, dan 4. tingkat bunga.


* Artikel ini adalah terjemahan dari “The Market for Production Credit among Farmers in Java”, yang pernah dimuat dalam Prima edisi bahasa Inggeris No. 3/1976. Dr. William Collier memberikan bantuan dan petunjuk yang berharga dalam mengumpulkan data-data dan sekian analisa pendahuluan yang ada dalam penelitian ini.

1 Untuk penjelasan mengenai rencana Bimas lihat Alexis Rieffels, “The Bimas Program for Self Sufficiency in Rice Production”, Indonesia, vol. 8, October 1969, halaman 103-35. Tujuan yang segera hendak dicapai oleh Bimas ialah “yang langsung meningkatkan” produksi beras. Produksi Bimas terdiri dari suatu pendekatan tiga-gigi “yang memberi petani: 1. suatu “ideologi” pertanian padi modern, 2. kredit untuk membeli “paket” input modern, dan 3. bimbing intensif. Dalam tahun 1974 program itu dibelanjakan untuk mencakup tanaman-tanaman lainnya seperti jagung, kedele, kacang, ubikayu dan sorghum. Sejak tahun 1975, program itu lebih jauh dibimbingkan untuk mencakup sayur-sayuran.

2 Selama musim hujan 1973, para petani yang berpartisipasi di Jati, sebuah desa di Jawa Barat di mana terdapat persawahan yang pengairannya dilakukan secara teknologis, menerima daftar berikut dalam tiap unit kredit BRI. Mereka yang memenuhi syarat buat memperoleh satu unit hektar dari kredit BRI menerima 200 kg. urea; 200 kg. Fosfat Trisuper; 2 liter pembasmi serangga; 1 ons pembasmi binatang pengerat; dan uang tunai bagi bibit-bibit yang harus dibeli (Rp 1875), layanan penyempotran (Rp 800), makanan dan barang-barang rumahtangga lainnya (Rp 5000).

3 Lihat Ace Partadiredja, “Rural Credit: The Ijon System”. Bulletin of Indonesian Economic Studies, vol. 10, no. 3, November 1974, halaman 54-71 menerangkan berbagai-bagai lembaga yang memberikan pinjaman kepada kaum tani serta penduduk desa lainnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan