Prisma

Krisis Iklim: Problem Transportasi, Energi, dan Sampah Perkotaan

Krisis iklim akibat pemanasan global merupakan tantangan multidimensi paling dahsyat yang mengancam kehidupan semua makhluk di seluruh pelosok bumi. Pemanasan global terjadi karena kegiatan industri, penggunaan tenaga listrik, transportasi dan pembangunan ekonomi kota yang menggunakan energi berbahan bakar fosil dan sebagian lagi karena ulah manusia membabat dan mengonversi hutan menjadi lahan perkebunan, pemukiman, dan infrastruktur ekonomi lainnya. Pem-bakaran energi fosil menghasilkan emisi gas karbon (CO2) buangan industri, pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Akumulasi bahan karbon pencemar yang disebut gas rumah kaca (GRK) di atmosfer itulah yang memunculkan fenomena pemanasan global dan krisis iklim. Suhu bumi semakin panas, pola curah hujan berubah drastis, iklim dan cuaca menjadi ekstrem, gelombang hawa panas, bencana kekeringan, kebakaran hutan, badai, banjir, tanah longsor, bongkahan es kutub meleleh, gelombang tsunami, kota pesisir dan pulau-pulau kecil tenggelam, dan banyak lagi bencana alam, sosial, dan ekologis yang melanda dunia akibat krisis iklim tersebut.

Dampak krisis iklim makin terasa di kota-kota dan kawasan perkotaan Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang pesat melalui proses urbanisasi dan modernisasi. Urbanisasi memindahkan masalah kemiskinan di perdesaan ke kampung-kampung kumuh di kota, memperbesar sektor informal dan meningkatkan kesenjangan sosial-ekonomi masyarakat kota. Modernisasi merangsang pertumbuhan ekonomi di kawasan elite kota-kota besar di Indonesia yang mendorong pertumbuhan industri, bangunan modern, gedung pencakar langit, infrastruktur jalan dan jembatan layang, serta berbagai fasilitas fisik kota modern. Proses itu terjadi dengan konsekuensi tergusurnya hunian, perkampungan, fasilitas dan akses penduduk “asli” serta masyarakat berpenghasilan rendah. Pertumbuhan itu juga disertai ledakan jumlah kendaraan bermotor pribadi secara eksponensial yang memacetkan lalu lintas kota sekaligus meningkatkan kebutuhan akan bahan bakar energi fosil karena buruknya infrastruktur dan sistem transportasi umum. Selain itu, pola konsumsi dan gaya hidup penduduk urban tidak peduli lingkungan, membuang dan memproduksi limbah dan sampah kota dalam skala luar biasa besar setiap hari. Buangan sampah rutin yang menghasilkan polutan gas metan skala besar itu jelas mencemari kota dan kesehatan penghuninya, bahkan jauh sebelum terjadinya pandemi Covid-19.  

Rubrik Dialog Prisma kali ini mengambil fokus diskusi tentang “Krisis Iklim: Problem Transpor-tasi, Energi, dan Sampah Kota” yang diselenggarakan secara daring pada awal Agustus 2021 dengan menghadirkan pakar perubahan iklim Dr Amada Katili Niode, pakar perkotaan dan lingkungan Dr Wicaksono Sarosa, serta ahli energi dan Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa. Diskusi terbatas itu dipandu oleh Harry Wibowo dan Ismid Hadad dari Prisma, Berikut petikan diskusi tersebut.

Dr Amada Katili Niode, pakar perubahan iklim

Dr Wicaksono Sarosa, pakar perkotaan dan lingkungan

Fabby Tumiwa, ahli energi dan Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan