Prisma

Kultur Agung Kapitalisme

Samir Amin, Eurocentrism (Monthly Review Press, New York, 1989), 152 hal.

I

SAMIR Amin, telah lama dikenal sebagai salah seorang akademikus yang dengan tegas mengambil “jalur kiri” dalam menjelaskan proses dan mekanisme perekonomian dunia. Keahliannya di bidang ekonomi politik, menempatkannya dalam deretan para analis Sistem Dunia (World System) yang mau menjelaskan keterbelakangan di negeri-negeri pinggiran dengan mempelajari dalam konteks proses akumulasi modal dunia. Soal ini dibahasnya dalam dua buku utamanya, Accumulation on a World Scale dan Unequal Development. Tesis dasarnya, bahwa akumulasi merupakan proses tunggal yang berlangsung dalam skala dunia, tetapi proses itu tidak menyeragamkan pembangunan sedunia karena dia berlangsung dalam dua jenis formasi sosial yang berbeda: centre dan periphery. Pusat kapitalis berkembang secara otosentris sesuai dengan dinamika internalnya. Sedangkan di wilayah pinggiran, perkembangannya terhambat (blocked) oleh pola pertukaran ekonomi pusat-pinggiran yang dibangun berdasarkan prinsip spesialisasi produksi. Dalam hubungan pertukaran ini, wilayah pinggiran tidak dapat berkompetisi dalam pasar internasional karena ekspornya yang terbatas pada sumber daya alam. Tentu tesis dependensi dan sistem dunia seperti ini sudah banyak dikritik terutama oleh perkembangan ekonomi dunia sejak awal 1980-an karena sukses “macan-macan Asia”.

Buku Eurocentrism ini kendati ditulis pada tahun 1989, ketika tesis-tesis dependensi dan Sistem-Dunia sudah mulai kurang argumentatif, tetapi menurut penulisnya, hendaknya dibaca dalam kerangka proyek pemikiran teoritisnya tadi, yaitu usaha untuk mengerti suatu proses sejarah universal berdasarkan pandangan “materialisme historis”. Dari sudut ini dapat dimengerti mengapa cara analisis Samir Amin masih memiliki daya tarik bagi Dunia Ketiga. Agaknya, belum ada perspektif lain untuk memandang sejarah kemunduran Dunia Ketiga, selain mengambil posisi kritis terhadap kapitalisme. Dan setiap posisi kritis terhadap kapitalisme, hanya mungkin kentara kontrasnya bila diletakkan pada titik pangkal pikiran Marx. Bagi dia, tidak ada konstruksi teori yang melebihi Marx dalam mengungkapkan proses alienasi dan kontradiksi internal kapitalisme. Karena itu, menurut dia, mengubur Marxisme (hal yang akhirnya ternyata terjadi di Eropa kini), berarti memberi legitimasi pada kapitalisme.

Apakah masih ada gunanya membicarakan sebuah buku yang ditulis dengan semangat kritik atas kapitalisme, justeru di tengah hiruk-pikuk Eropa yang sedang merayakan kemenangan kapitalisme itu? Buku ini memang ditulis sebelum puncak perubahan besar terjadi di belahan dunia komunis. Tetapi selalu harus disadari bahwa keruntuhan komunisme di Eropa belum diikuti oleh lahirnya suatu paradigma kebudayaan baru yang dapat dijadikan acuan masyarakat dunia untuk mengatasi masalah-masalah laten ketimpangan sosial, terutama di masyarakat pinggiran. Amin, melalui buku ini, berupaya memperlihatkan sifat kontradiksi yang menetap dalam konstruksi kapitalisme. Dari sana ia coba menyusun suatu sketsa pikiran bagi masa depan yang lebih adil. Dia memang pada akhirnya meletakkan pilihan pada sosialisme, tetapi bukan sebagai hasil kemestian prediksi Marx, melainkan sebagai kerangka kebudayaan yang lebih humanis yang masih harus diisi bersama-sama oleh terutama golongan (intelektual) kiri di pusat dan melalui perjuangan demokrasi di masyarakat pinggiran. Di sini kita seharusnya ikut berpikir, dan karena itu membicarakan buku ini tentu tetap ada gunanya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan