Prisma

Kultur Politik Elite Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembangunan Ekonomi*

Tesis untuk program Ph.D. dalam bidang ilmu pemerintahan yang dilakukan tahun 1974 ini mencoba mempelajari pola hubungan atau pengaruh kultur politik dari pimpinan masyarakat terhadap pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat. Hipotesa yang diuji pada tesis ini ialah bahwa perubahan budaya politik pimpinan-pimpinan pemerintah dan masyarakat, juga membawa perubahan yang berarti dalam pola dan tingkat pembangunan ekonomi masyarakatnya.

Untuk menguji hipotesa tersebut itu, tesis ini mengambil sampel pertumbuhan politik dan ekonomi pada periode Demokrasi Terpimpin (1961-1964) dan periode Orde Baru (1968-1971). Biasanya orang mengatakan bahwa kultur politik masa Orde Lama sangat berbeda dengan masa Orde Baru. Tesis ini mencoba menguji secara empiris, sampai di mana pendapat tersebut benar. Dan bila ada aspek-aspek kultur politik yang berubah, maka aspek mana yang mendukung dan mana yang menghambat pembangunan ekonomi.

Pimpinan atau elite yang dipilih sebagai sampel ialah para pejabat tinggi pemerintah, pimpinan militer, tokoh politisi, pimpinan agama, usahawan, tokoh-tokoh lain yang mempengaruhi pendapat umum (opinion leaders). Dengan memakai variabel atau dimensi tertentu dari kultur politik, kultur politik mereka dianalisa melalui ucapan-ucapan mereka yang dikutip suratkabar, dalam usaha mereka mempengaruhi perilaku dan cara berpikir masyarakat. Metode analisa yang dipakai disebut content analysis, yaitu suatu metode kwantitatif yang berisi prosedur memberi kode-kode isi pernyataan orang menurut indikator-indikator yang telah ditentukan. Metode tersebut asal mulanya dikembangkan selama Perang Dunia II untuk menganalisa pidato-pidato pimpinan pemerintah melalui radio, untuk menentukan strategi militer dan prioritas politik dari pimpinan bangsa-bangsa yang berperang pada waktu itu.1

Content Analysis tersebut memungkinkan menganalisa pemikiran politik orang secara sistematis dan kwantitatif. Metode tersebut dikaitkan dengan perkembangan baru di bidang ilmu politik yang muncul khususnya sejak pertengahan tahun 1960-an, tentang behavioral approach yang diterapkan dalam studi ilmu politik dengan metode kwantitatif dan statistik dari eksperimen ilmu jiwa dan ekonometri dari ilmu ekonomi.2

Penganalisaan gejala politik secara kwantitatif ini diperlukan untuk mencari hubungannya dengan pembangunan ekonomi di mana indikator-indikatornya adalah kwantitatif.


* Judul asli daripada tesis ialah: “Budaya Politik Elit dan Signifikansinya bagi Pembangunan Ekonomi: Kasus Indonesia”. Disertasi Ph.D. di bidang Ilmu Pemerintahan, Universitas Clament, 1974.

1 Robert C. North, dkk., Analisis Konten: Buku Pegangan untuk Studi Krisis Internasional, (Evanston: Northwestern University Press, 1963). Bernard Berelson, Analisis Konten dalam Penelitian Komunikasi, (Glencoe: Free Press, 1952); Uraian tentang teknik analisis konten yang cukup lengkap terdapat pada R. Holsti, “Analisis Konten”, pada buku Handbook of Social Psychology, Gardner Lindzey dan Elliot (eds.), Vol. II., Edisi Kedua, (Cambridge, Mass: Addison-Wesley, 1968).

2 Biasanya ilmu politik memakai pendekatan legalistis dan filosofis, yang membahas tentang prinsip-prinsip ideal sistem politik serta ideologi-ideologinya. “Behavioral approach” memungkinkan menganalisa sistem politik menurut perilaku atau prosesnya. Nilai-nilai politik dapat pula dipakai sebagai kasus penelitian, umpamanya peranannya dalam kepemimpinan politik.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan