Prisma

Kyai-Kyai Bukit Kapur

Elly Touwen Bouwsma, Staat, Islam en lokale leiders in West Madoera, Indonesië: Een historisch-anthropologische studie (Kampen: Mondiss, 1988), xx + 276 halaman.

SEKITAR lima tahun yang lalu buku ini terbit dalam bentuk disertasi doktor bidang antropologi di Vrije Universiteit, Amsterdam, Negeri Belanda. Penulisnya adalah seorang di antara sekelompok “orang Madura” di kalangan ilmuwan sosial Belanda. Tetapi tidak perlu terheran-heran sebab yang dimaksud dengan “orang Madura” di sini hanyalah gurauan untuk menyebut suatu kelompok kerja (werkgroep) ilmuwan sosial Belanda — khususnya dalam bidang sejarah dan antropologi — yang menekuni kajian tentang masyarakat Madura. Selain Elly, nama yang tampaknya sudah dikenal di sini ialah Huub de Jonge yang disertasi-nya tentang juragan dan bandol dalam perdagangan tembakau rakyat di Madura — telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia (Madura dalam Empat Zaman, Gramedia, 1989).

Tema pokok studi Elly ialah mengenai pengaruh timbal-balik antara proses pengintegrasian negara di satu pihak dengan proses pengislaman masyarakat Madura di lain pihak sejak pertengahan abad ke-18 hingga 1980-an. Kajian teliknya dipusatkan pada Desa Beru, Kabupaten Sampang, Madura Barat. Bersama suaminya, Elly pernah tinggal di desa itu selama sekitar dua tahun (1978-80) untuk melakukan penelitian lapangan. Promotornya adalah Profesor Heather Sutherland, guru besar Vrije Universiteit, yang dikenal dengan kajian-kajiannya tentang priyayi dan birokrasi di Jawa.

Masyarakat dan Islam

Pembicaraan tentang masyarakat Madura tampaknya memang selalu menarik perhatian. Sebagian besar masyarakat pulau itu dikenal sebagai penganut Islam yang ‘kolot’ dan karena itu ‘alot’ dalam menanggapi berbagai upaya perubahan, modernisasi — atau apapun sebutannya — apalagi ‘penetrasi’ dari luar yang mereka pandang akan menggoyahkan sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan mereka. Elly menunjukkan bahwa baik kumpeni dagang VOC, kemudian pemerintah Hindia Belanda, maupun raja-raja Madura tidak pernah berhasil sepenuhnya mengintegrasikan masyarakat Islam di Madura ke dalam suprastruktur politik yang lebih dominan. Juga dalam masa Orde Baru, Elly mengutip hasil Pemilihan Umum 1971, 67% pemilih di Pulau Madura ternyata mencoblos Nahdatul Ulama (sebelum partai itu berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan), mengungguli Golkar yang hanya memperoleh 26% suara.

‘Ketangguhan’ orang-orang Madura terhadap ‘pengaruh’ luar tidak dapat dilepaskan dari peranan ulama dan kyai dengan mitos kesakten ‘kesaktian’ mereka. Pertanyaan besar yang lalu menggoda Elly ialah mengapa orang-orang Islam, khususnya para kyai, di Madura tetap bersikukuh pada kekuatannya sendiri dan seakan-akan ‘terpisah’ dari struktur kekuatan yang lain; dan bagaimana kiat mereka untuk tetap bertahan terhadap penetrasi dari luar.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan