Sejak abad XVI sampai tahun 1736, dan dari 1754 sampai awal abad XX, sejarah Sulawesi Selatan diwarnai oleh persaingan antar kerajaan untuk memperkuat hegemoni di kawasan itu. Dalam keadaan seperti itulah La Ma’dukelleng bangsawan Wajo’ yang meninggalkan negerinya sejak usia muda datang kembali sebagai tokoh berpandangan luas: mempersatukan semua kerajaan dan mengusir Belanda dari kawasan itu. Dia memandang VOC sebagai musuh yang harus diusir dengan segenap tenaga. Tetapi setelah dia meninggal tak ada tokoh lain seperti dia yang muncul di Sulawesi Selatan.
Sejak permulaan abad XIV di Sulawesi Selatan terdapat beberapa kerajaan, antara lain Luwu’ (kerajaan tertua yang diperkirakan sezaman dengan Sriwijaya),1Bone, Soppeng, Gowa, Sidenreng, Suppa’, Tallu Lembanna (Tana Toraja kini), Siang dan beberapa kerajaan kecil lain. Serikat kerajaan-kerajaan di daerah Mandar, diperkirakan lahir pada permulaan abad XVI dan kerajaan elektif Wajo’ lahir pada akhir abad XV.2
Menurut kronik-kronik sejarah di Sulawesi Selatan, yang disebut Lontara,3 sejak abad XVI terjadi peperangan antar kerajaan untuk memperebutkan hegemoni di Sulawesi Selatan. Tidak pernah terjadi penyatuan semua kerajaan, kecuali Luwu’, menurut gambaran buku sastra I La Galigo.4
Sejak abad XVI sampai 1736 serta dari tahun 1754 sampai takluknya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada tahun-tahun 1905-1907, sejarah daerah tersebut diwarnai oleh persaingan kerajaan-kerajaan, terutama antara Bone-Soppeng dan Gowa, untuk memperebutkan hegemoni di Sulawesi Selatan. Itulah sebabnya masyarakat Sulawesi Selatan dikwalifisir sebagai masyarakat oposisi dan prestige,5 namun dinamis.
1 L.A. Emanuel, Memorie van Overgave van den afgtreden Assistent Resident van Bone, periode 25 Oktober 1945-20 April 1948, hal. 12-15; Andi Zainal Abidin, The I La Galigo Epic Cycle and Its Diffusion, Indonesia, Cornell Modern Indonesia Project, Ithaca, New York, No. 12, 1971, hal. 159-172.
2 Andi Zainal Abidin Farid, Wajo’ Pada Abad XV-XVI; Suatu penggalian Sejarah terpendam Sulawesi Selatan dari Lontara, disertasi doktor tanggal 4-4-1979, Universitas Indonesia, Jakarta.
3 Lontara, mungkin dari perkataan “raung tala” (Makassar), “rental” (Bali), secara harafiah berarti daun pohon lontar (Borassus flabelliformis), yaitu “menunjukkan setiap naskah yang ditulis dengan tangan, akan tetapi yang orang suka sekali menggunakannya khusus untuk naskah-naskah sejenis ini, yang isinya mengenai sejarah”, demikian A.A. Cense. Istilah yang lebih tua di daerah Bugis ialah “sure” (surat; tulisan huruf Bugis), yang menurut kabar pada mulanya digunakan daun aka’ (Coripha Gebanga). Menurut Andi Makkaraka, dalam wawancara pada tahun 1967, tulisan pertama di daun aka’ dilakukan di Luwu’, kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Tulisan pertama itu mengandung cerita raja-raja Luwu’ sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan terkenal di Sulawesi (sebelum tahun 1300).
4 Berbeda dengan pendapat orang-orang Belanda, orang-orang Bugis yakin bahwa cerita di dalam buku sastra I La Galigo mengandung sejarah bukan dongeng. Cerita Galigo bukan saja dikenal di Bugis, tetapi di seluruh pulau Sulawesi, terutama di Gorontalo, Luwuk-Banggai, Sangir-Talaud, Sulawesi Tenggara.
5 H.Th. Chabot, Verwantschap, stand en Sexe in Zuid Celebes, J.B. Wolters, Groningen, Jakarta.