Prisma

Lapisan Masyarakat yang Paling Lemah di Pedesaan Jawa

Pelapisan di pedesaan

Sejak 1910 Boeke1 mengemukakan adanya perbedaan mendasar antara tujuan-tujuan kegiatan ekonomi di Barat dan di Timur. Ada dorongan kuat untuk “keperluan ekonomi” di satu pihak, dan pengutamaan “keperluan sosial” di lain pihak. Percuma berusaha memasukkan teknologi dan kelembagaan moderen dari Barat ke pedesaan Indonesia; lebih tepat mempertahankan pola lama perekonomian desa, katanya. Pemikiran ini disebut “dualisme statis”; apa yang baik untuk sektor moderen belum tentu baik pula untuk sektor tradisional, maka waspadalah dalam membina hubungan antara keduanya.

Geertz2² dengan menelusuri sejarah penjajahan, menunjukkan bahwa kekuasaan penjajah dan kemudian juga teknologi baru dan modal yang dibawanya telah memiskinkan penduduk pedesaan Jawa dan dalam proses itu masyarakat petani Jawa telah menjadi statis. Dia membantah Boeke yang menyatakan bahwa kemiskinan itu terjadi karena kestatisan orang desa di Jawa. Sejarah Jawa yang diuraikan Geertz juga menggambarkan bahwa surplus pertanian hasil keringat petani Jawalah yang memungkinkan perekonomian di Negeri Belanda berkembang pesat di abad yang lalu. Kenyataan ini adalah kebalikan dari usaha memisahkan dua dunia Barat dan Timur di Hindia-Belanda.

Geertz menggambarkan dua tipe bentuk hubungan antara “unsur luar” dan desa tradisional dalam proses itu, berdasar konsep “ekologi kebudayaan”. Di Jawa terjadi simbiosis yang bercorak “mutualistis” antara pola pertanian pada sawah (petani) dan pola perkebunan tebu (perusahaan besar pabrik gula) yang menyewa sawah dan tenaga-kerja petani. Akibatnya dinilai “baik” untuk masing-masing pihak. Di Sumatera Utara (Deli) terjadi “toleransi” antara peladang pribumi dan perkebunan besar tembakau yang memilih pola berladang berpindah-pindah juga. Akibatnya bagi tiap pihak tidak nyata merugikan atau menguntungkan. Sebenarnya sebutan “simbiosis” yang saling menguntungkan antara pola petani pada sawah dan pola pabrik gula tebu di Jawa patut dipertanyakan juga, jika hasilnya nyata-nyata telah membuat miskin masyarakat pedesaan, juga dalam arti bahwa “sistem pedesaan” Jawa telah dipaksa untuk selalu menyesuaikan diri tanpa “boleh berubah secara hakiki”. Dalam proses itu pola pertanian sawah telah ter-involusi, menemui “jalan buntu”, dengan produktivitas (hasil per orang-hari) yang tak naik lagi (di sekitar 1 kg beras per jam-orang) karena banyaknya tenaga-kerja yang tertampung di sawah, yaitu lebih dari 200 orang-hari per hektar dengan sebagian besar menarik tenaga buruh tani upahan pada luas usaha lebih dari 0,5 ha.


1 J.H. Boeke, Economie van Indonesie, (Haarlem: Willinck, 1951).

2 C. Geertz, Involusi Pertanian, (Jakarta: Bharata, 1976).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan