Pengantar
MASYARAKAT Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Yogyakarta bekerjasama dengan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jahranitra) menyelenggarakan seminar dua hari (22 – 23 Agustus 1988) di Yogyakarta, dengan tema “Dengan Menghayati Sejarah Revolusi Kemerdekaan Mempertebal Semangat Patriotisme.” Seminar yang mencoba melihat kembali revolusi Indonesia ini dihadiri tidak saja oleh pakar sejarah di Yogyakarta, tapi juga oleh mereka yang datang dari luar Yogya, termasuk mereka yang pernah mengalami asap mesiu dan pengetatan ikat pinggang selama revolusi.
Dr. Kuntowidjojo, Ketua MSI Cabang Yogyakarta, mengatakan bahwa seminar membicarakan mengenai banyak hal, seperti variasi sejarah revolusi di tingkat lokal, studi komparatif sejarah revolusi, peranan para ulama dan agama, reaksi kaum bangsawan, mobilitas sosial selama revolusi, mekanisme birokrasi, serta respon kaum buruh, pelajar, pemuda dan juga wanita. Pembahasan ditekankan pada masalah lokal di Salatiga, beberapa revolusi “sosial” di Surakarta, Klaten, Yogyakarta, Sumatera Timur, dan Sulawesi Selatan. Tidak pula ketinggalan peranan kelompok yang muncul dalam zaman penuh gejolak itu, seperti para kyai dengan barisan bambu runcingnya, aktivitas buruh di awal revolusi, maupun peranan keturunan Arab. Pandangan negara-negara yang berperhatian terhadap revolusi Indonesia juga tak dilupakan. Prisma, berikut ini menyajikan masalah-masalah pokok yang dibahas dalam seminar itu, beserta gagasan yang dilontarkan para pesertanya, ditulis oleh E. Dwi Arya Wisesa, mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Redaksi