Pengantar
LAPORAN Khusus Prisma kali ini bercerita tentang kondisi kaum pekerja di Tangerang, sebuah kota yang saat ini sering dikatakan sedang mengalami “berkah industri” akibat posisinya sebagai wilayah penyangga luapan industri dari Jakarta. “Berkah” mungkin memang kata yang tepat untuk menunjukkan menjamurnya kehadiran pabrik-pabrik baru di sana, namun tidak untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat yang mayoritas terserap sebagai buruh dalam pertumbuhan industri itu.
Ini memang seperti mengulang cerita lama. Tentang kecenderungan untuk menempatkan buruh sebagai sekadar faktor produksi yang dapat – dan paling mungkin – ditekan nilainya untuk mempermurah biaya. Tentang buruh wanita dan anak-anak yang berhasrat “meringankan beban keluarga”, namun kemudian tersudut dalam rendahnya posisi tawar mereka akibat kompetisi antar unskilled workes yang ketat. Tentang penghasilan yang di bawah standar upah minimal, lingkungan dan keselamatan pekerja yang tak terjamin dan ketidakberfungsian serikat pekerja. Namun juga tentang betapa tidak memadainya sebenarnya langkah-langkah yang dijalankan pemerintah untuk menanggulangi kondisi buruk itu.
Laporan yang ditulis Edward S. Simanjuntak ini memang bernada prihatin. Seperti mengulang sebuah cerita lama. Atau, dalam cara pengungkapan lain: bukan sebuah cerita lama, tapi cerita tentang kondisi yang sudah lama ada namun tidak juga kunjung berubah. Tangerang hanya salah satu contohnya.



