Prisma

Legitimasi Baru

Seorang pedagang bukannya tidak mengerti bahwa di dalam kehidupan terdapat banyak prinsip. Tawaran-tawaran kaidah hidup hampir tak terhitungkan, tetapi dia hanya butuhkan satu. Karena itu dari begitu banyak prinsip telah diambil dan dipegang satu hal: mengejar keuntungan. Berdasarkan itu dia berpikir. Mencari peluang di dalam setiap celah kehidupan dan beraksi. Menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru. Prinsip-prinsip lain yang berbelit digumpalkan dalam satu simpul: keuntungan.

Ada banyak prinsip di dalam masyarakat. Tetapi kita tidak bisa membangun suatu kehidupan di atas semua prinsip. Karena itu ada semacam persetujuan diam-diam tentang suatu prinsip yang menjadi dasar bertindak, yang mau atau tidak mau, sadar atau tidak sadar kita turuti. Salah satu di antaranya adalah keyakinan bahwa semua manusia pada dasarnya sama. Dia pernah diterima di dalam masa di mana perbudakan masih merajalela. Dia pernah diterima di masa di mana feodalisme yang setua umur manusia diterima sebagai sesuatu yang patut. Yang mengherankan di sini bukannya bahwa keyakinan itu diterima, akan tetapi bahwa dia diterima justru di saat di mana kenyataan pahit feodalisme dan perbudakan menyangkal mentah-mentah seluruh keyakinan tersebut. Kesimpulan yang sangat realistis sebenarnya adalah bahwa ternyata semua manusia tidak sama diciptakan.

Namun tidak kurang eksperimen yang dibuat justru untuk menyangkal kenyataan ini. Komunisme, nihilisme, atau gerakan-gerakan keagamaan adalah contoh-contohnya. Tetapi hampir setiap percobaan tenggelam di dalam kekeliruan baru. Persamaan ternyata mungkin. Kelas-kelas baru malah diciptakan lagi.

Jim Jones, sang pendeta, mengimpikan suatu masyarakat baru di mana tidak ada perbedaan. Namun dalam prosesnya diciptakan suatu perbedaan baru. Bukannya lagi cinta persaudaraan sebagaimana yang senantiasa diidamkannya, tetapi ternyata cambuk menjadi hukum baru, pelor dan racun menjadi hukum baru di bawah pimpinan sang Bapak, Jim Jones. Dan akhirnya memang ada kesamaan yaitu 900 orang pengikutnya mati tergeletak bersama sang Bapak. Dan opini dunia adalah: Jim Jones gila, paranoid. Dan hampir-hampir menjadi kesimpulan bahwa mengejar persamaan adalah jalan menuju paranoia.

Lantas dari mana disimpulkan bahwa semua manusia diciptakan sama? Apakah kesimpulan itu hanya diambil sewenang-wenang dari kenyataan bahwa setiap orang dilahirkan sama telanjang dan dikuburkan sama sepi sendirian?

Ada suatu persetujuan diam-diam bahwa Petruk hanya bisa berlaku sebagai Petruk, dan bukan sebagai Raja. Hanya untuk mengundang cemoohan bilamana dia bertindak sebagai Raja. Ada suatu persetujuan bersama pula bahwa bawahan adalah bawahan. Dan berlaku sebagai bawahan. Kenyataan ini pun tidaklah lain artinya daripada suatu pernyataan: akuilah perbedaan! Maka dengan demikian persetujuan tadi bukan saja suatu persetujuan, tetapi sudah menjadi suatu imperative conventionality. Dia menjadi dasar bertindak yang sudah menjadi hukum dan hakim sekali gus. Bahwa para pemimpin harus kaya dan hidup bergelimang kekayaan adalah suatu imperative conventionality.

Dan juga sudah menjadi suatu imperative conventionality bahwa kekayaan itu harus ditunjukkan dalam suatu gaya hidup tersendiri. Dengan mengumbarkan gaya dia akan mendapat nama. Dan kata Veblen “in order to effectually mend the consumer’s good fame it must be an expenditure of superfluities. In order to be reputable it must be wasteful”. Agar memiliki reputasi baik, itu harus boros”. Dengan kata lain agar hebat, konsumsinya harus mewah dan terbuang-buang. Karena semuanya itu adalah suatu pengesyahan baru bahwa: Aku memang berbeda dari Kau! Maka gaya hidup itu menjadi legitimasi baru bagi perbedaan. Siapa mampu menghapuskannya?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan