Prisma

Maluku Tengah dalam Abad Ke Sembilanbelas: Studi Pendahuluan

Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Barat, kepulauan Maluku telah dikenal di bagian dunia lainnya sebagai daerah penghasil cengkeh: suatu jenis tanaman yang amat mahal waktu itu. Sejak datangnya bangsa Portugis di abad ke-16 dan Belanda di abad ke-17, daerah ini terus menerus menjadi ajang pertarungan baik antara kedua bangsa itu maupun dengan kerajaan-kerajaan lokal di Maluku. Namun pengetahuan kita sendiri mengenai struktur masyarakat setempat dan perubahan-perubahan yang terjadi pada waktu itu sebagai akibat masuknya bangsa-bangsa Barat, sangatlah sedikit. Dalam tulisan ini R.Z. Leirissa mencoba menggambarkan situasi pada waktu itu serta proses perubahan yang berlangsung, khususnya di Maluku Tengah.

Keadaan Alam

Pulau-pulau terpenting yang terbentang di Maluku Tengah adalah pulau Ambon, Seram, Buru, Haruku, Saparua, dan Nusa laut. Beberapa pulau kecil di sebelah timur Seram dan sebelah baratnya memainkan peranan tersendiri pula. Sedikit banyaknya keadaan alam kepulauan ini juga mempengaruhi struktur sosial, ekonomi serta politiknya. Pegunungan yang jarang mencapai ketinggian yang memadai dengan sungai-sungai yang relatif kecil (kecuali di Seram) tidak memungkinkan munculnya suatu sistem persawahan. Pulau-pulau yang penuh berbukit ini juga meniadakan hal itu. Dalam awal abad ke-19 pemerintah Belanda mencoba mengusahakan persawahan di Laha (pulau Ambon) tetapi tidak membawa hasil yang memuaskan. Padi gogo yang diusahakan di beberapa tempat di Seram oleh penduduk lebih berhasil sekalipun kualitasnya tidak memadai. Pulau ini memang lebih memungkinkan pertanian dan perkebunan dan dalam bagian pertama abad ke-19 ada usaha-usaha yang positif ke arah pembukaan perkebunan kopi, kakao, dan lain-lain. Namun, kurangnya prasarana perhubungan untuk mengangkat hasil-hasilnya dengan menguntungkan, menyebabkan usaha ini pun mundur dalam dekade-dekade berikutnya.

Sepanjang sejarah wilayah ini sangat rawan dilihat dari segi vulkanologi. Pulau-pulau tersebut muncul karena kekuatan-kekuatan vulkanologis dalam masa prasejarah. Namun sampai abad ke-19 gejala-gejala vulkanologis ini masih nampak dalam bentuk gempa bumi. Sekalipun sebelum 1674 sudah dicatat sejumlah gempa yang berakibat buruk bagi kepulauan tersebut, namun gempa tahun itu tercatat dalam ingatan generasi generasi kemudian sebagai gempa yang terbesar. Tidak kurang dari 2322 orang yang meninggal. Kerugian material sangat besar. Gempa bumi yang besar dalam abad ke-19 umpamanya terjadi pada tahun 1830, 1837, 1842, 1845, 1850, 1852, 1861. Gempa tahun 1842 dikenang juga karena diikuti dengan suatu gempa laut yang jarang terjadi. Terutama pulau Buru sangat menderita karenanya. Kerugian jiwa dan materi yang diakibatkan gejala vulkanologis ini tidak jarang membawa penderitaan bagi penduduk wilayah tersebut.1

Seperti pada umumnya di Indonesia, yang dipengaruhi oleh iklim tropis, wilayah ini juga dipengaruhi oleh perubahan-perubahan cuaca yang dibawa musim timur maupun musim barat, yang masing-masing bertiup antara Mei sampai dengan Agustus dan Nopember sampai dengan Februari. Yang paling mengesankan mungkin adalah masa-masa peralihannya. Peralihan pertama dari musim panas ke arah musim penghujan mengakibatkan langit sangat cerah tetapi panas. Namun peralihan kedua ke arah penghujan yang sesungguhnya mengakibatkan udara sangat nyaman dengan hujan yang menyegarkan. Tetapi saat-saat pergantian iklim ini tidak sama di seluruh Maluku Tengah. Bagi pulau Ambon dan bagian Selatan pulau Seram dan pulau Buru musim penghujan jatuh pada saat-saat musim timur (Mei sampai dengan Agustus). Pada saat yang sama Seram dan Buru utara mengalami iklim panas. Dengan demikian, bila orang berlayar dari Ambon dalam musim hujan, setiba di Wahay (Seram Utara) ia akan menjumpai musim panas yang sering sangat mengganggu. Karena keadaan lautan, gelombang, angin, dan lain-lain, sangat terpengaruh oleh angin-angin muson ini, maka ciri-ciri klimatologis tersebut, merupakan pengetahuan yang pokok bagi penduduk kepulauan itu yang menggunakan lautan sebagai alat komunikasi utama.


1 E.W.A. Ludeking, Schets van de Residentie Amboina, Martinus Nijhoff, ‘s Gravenhage 1868, hal. 5-20.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan