Pendahuluan
Telaah tentang hubungan antara sistem pendidikan dengan masyarakat, lazimnya dilakukan dengan suatu model yang klasik. Kerangka fikiran tersebut mempunyai konstruksi yang terdiri dari tiga komponen: a. lembaga pendidikan itu mengubah kwalitas pribadi; b. pribadi yang telah berubah kwalitasnya itu meninggalkan sekolah, kemudian memasuki lembaga sosial-ekonomi; c. lembaga sosial-ekonomi berkembang, karena menerima pribadi yang memiliki kwalitas yang baru. Dengan kerangka fikiran ini, diterangkanlah pentingnya kedudukan sistem pendidikan terhadap perkembangan masyarakat. Pandangan itu sendiri adalah logis dan menempati suatu kedudukan tertentu dalam pemikiran pendidikan. Sejak selesainya Perang Dunia Kedua banyak negara yang sedang berkembang menganut pandangan itu, dan karena itu telah memperlihatkan kegiatannya yang nyata dalam mengekspansikan sistem pendidikan formilnya. Dalam jangka dua puluh tahun (1950-1970), kenaikan jumlah murid dari negara-negara tersebut berkembang sangat nyata: a. pada tingkat pendidikan dasar kenaikan itu mencatat sebesar 211%; b. pada tingkat sekolah menengah 465%; c. pada tingkat pendidikan tinggi 511%1.
Kenaikan jumlah murid dalam sistem pendidikan kita di Indonesia selama waktu yang sama itu tampak sebagai berikut: a. pada tingkat pendidikan dasar kenaikan itu adalah dari 4.926.000 menjadi 13.395.000 atau 271%; b. pada tingkat pendidikan menengah dari 230.992 menjadi 1.902.740 atau 820%2; c. pada tingkat pendidikan tinggi dari 6.513 pada tahun 1951 menjadi 128.000 pada tahun 1970 atau kenaikan sebesar 1.965%3.
1 Lihat Laporan Bank Dunia: Sector Working Paper: Education, Desember 1974, hal. 13.
2 Lihat Badan Pengembangan Pendidikan Departemen P dan K, Perkembangan Jumlah Sekolah, Guru dan Murid 1949-1970, Pebruari 1973, Tabel 3.
3 Angka tahun 1951, lihat Pewarta PPK, No. 6-7-8 Tahun 1951, hal. 25; angka tahun 1970, lihat Mashuri, “Menuju Sistim Pendidikan Pembangunan”, dalam Prisma, No. 3, 1972, hal. 15.

