Will Durant1 seorang filosof Barat, pernah melontarkan prediksi bahwa pada tahun 2000 nanti akan muncul peristiwa yang revolusioner — namun bukan peperangan melainkan munculnya transformasi status wanita. Prediksi Durant ini rupanya telah menjadi kenyataan sebelum masa itu tiba. Bahkan di Indonesia, transformasi tersebut menandai pasca abad XX atau awal abad XXI. Peristiwa bersejarah yang mendunia tentang wanita pun baru saja berlangsung, yakni Konferensi Wanita se-Dunia di Beijing, RRC. Namun, masih banyak persoalan yang mesti dipecahkan, terutama berkenaan dengan topik kontrasepsi, akses terhadap informasi reproduksi yang sehat bagi remaja dan hak pribadi serta pasangan untuk memutuskan jumlah anak dan selang waktu tiap anak, dan perkosaan dalam kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan sebagaimana merawat korban perkosaan.
Dalam perspektif feminisme, istilah yang sering muncul berkenaan dengan hal tersebut adalah seksisme, yakni pandangan yang membedakan berdasarkan jenis kelamin.2 Hal ini
Maman Suryaman
ternyata menonjol yang sekaligus menjadi warna pandangan terhadap wanita dalam novel-novel Indonesia mutakhir. Pengarang yang amat respek terhadap persoalan sosok wanita pada masa mutakhir ini di antaranya adalah Mangunwijaya, terutama melalui karya terakhirnya yang berjudul Burung-Burung Rantau.
Gagasan Mangunwijaya tentang Generasi Pasca nasional
Pembicaraan tentang Mangunwijaya serta pandangannya terhadap wanita amat relevan dan memiliki arti tersendiri, terutama bila dikaitkan dengan momen Hari Ibu. Di samping itu, pandangan Mangunwijaya tentang masyarakat Indonesia, khususnya tentang sosok wanita amat menonjol dalam novel Burung-Burung Rantau (BBR), sehingga banyak pengritik yang menganggap bahwa novel tersebut pada dasarnya merupakan pikiran dan gagasan Mangunwijaya tentang masyarakat Indonesia pasca abad XX atau menjelang abad XXI yang diistilahkannya dengan masyarakat pasca nasional atau pasca Indonesia.3 Konsep ini diartikan
Mangunwijaya sebagai generasi pasca Indonesia yang memiliki keseimbangan dalam penghayatan terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dengan etika dan moral, sehingga melahirkan generasi-generasi Indonesia kini dan kelak yang berwawasan nasional, universal, transnasional, serta memiliki peran dan tanggung jawab sosial, terutama terhadap nasib mereka yang lemah, miskin, marginal, dan tak berdaya. Di antara para pengritik tersebut adalah Faruk HT, Budi Darma, dan Wiyatmi.
1 Ibnu, Mustafa. Wanita Islam Menjelang Tahun 2000. 1987.
2 Amrullah, Irfan. “Seksisme dalam Perspektif Feminisme”, Pikiran Rakyat. 11 Oktober 1995.
3 Mangunwijaya, Y.B. Burung-Burung Rantau. (Jakarta: Gramedia, 1992).