Antara keyakinan dan mitos tidak jauh jaraknya. Dalam kemilau, mitos menjadi keyakinan dan keyakinan hampir dengan sendirinya berubah wajah menjadi mitos. Banyak hal terjerat di dalamnya, tetapi agama punya kecenderungan khusus untuk menyimpan dan mewarisi kedua-duanya.
Keluarga adalah ajang yang paling aman untuk menyimpan dan mewariskannya. Sangat masuk akal bahwa nilai-nilai inti yang hakiki dari keyakinan agama membadan dan mengambil bentuk pertama dalam diri orang tua. Yang disebut sosialisasi agama pun berasal dari sana. Dengan demikian bisa jadi misalnya keperkasaan sang ayah menjadi perlambang dan sekaligus mitos dari keperkasaan ilahi. Kelembutan ibu menjadi simbol kelembutan dan kasih sayang yang menjadi daging dan darah. Gambaran serupa terus berkelanjutan. Nilai-nilai dan semua keutamaan mendaging dalam diri guru, pemimpin agama, pahlawan-pahlawan.
Tetapi lambang adalah lambang. Kehidupan nyata dan masalahnya senantiasa menjadi bara yang membakar dan mengulitinya, seandainya mitos hanya sekedar penyalut. Pembongkaran mitos senantiasa jadi titik awal krisis yang pada gilirannya bergema dalam krisis agama, sosial, politik dan seterusnya.
Demikianlah Nuh menjadi simbol keperkasaan dan penyelamat dunia baheula. Dunia diselamatkan Nuh dari air bah di zaman dulu. Syahdan Nabi Nuh pun minum anggur dan mabuk. Dan dia terbaring di dalam kemahnya. Ketika Ham sang anak, melihat bapaknya telanjang, dia pun ke luar dan bercerita kepada saudara-saudaranya. Dan kedua anaknya yang lain, Sem dan Yafet, mengambil sehelai kain dan membentangkannya di atas bahu mereka. Sambil berpaling muka mereka berjalan mundur. Mereka menutupi ketelanjangan bapaknya dan tidak melihat aurat bapaknya. Lantas bapaknya tersadar dari tidurnya dan mengutuk: Terkutuklah Kanaan (wilayah Ham), semoga ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya. Semoga Allah meluaskan wilayah kediaman Jafet dan tinggal dalam kemah-kemah Sem !
Sejak Nuh mengutuk anaknya yang satu dan memberkati anaknya yang lain pertarungan senantiasa berulang. Pertarungan yang keras dalam sejarah adalah pertarungan untuk membuktikan apakah agama dan semua unsur keyakinan dalam dirinya milik dunia atau berdiri di atas indra (supernatural). Yang terakhir sering dipegang dan menang. Karena itu kepenuhan hidup terletak dalam kepenuhan penolakan semuanya yang berbau dunia. Penyangkalan semua yang berbau indrawi.
Namun ada satu kenyataan yang tidak mungkin ditolak yaitu bahwa yang beragama adalah manusia. Selain itu tak ada satu makhluk pun yang beragama. Dan yang beragama adalah manusia dalam keutuhan dirinya tanpa sepuhan, yaitu dalam ketelanjangannya: dalam ketakutan, kegembiraan, kemiskinan, kesunyian. Dalam kesepian sendiri bertarung dengan nasib, dalam kekecewaan, dalam rasa ditinggal dan putus asa. Kenyataan ini tidak bisa ditolak karena yang beragama adalah mereka yang lahir inter faeces et urinam, yang lahir dan bertarung dalam lumpur-lumpur hidup ini. Tragedi Nuh dan anaknya bukanlah terletak dalam ketelanjangannya, tetapi dalam usaha untuk menutupi bahwa ketelanjangan adalah bagian yang utuh dari diri manusia: dalam ketelanjangan setiap orang menemui Tuhannya!
Di sini bukan tempatnya untuk mempersoalkan kebenaran-kebenaran agama atau ketidakbenarannya. Namun kalau semuanya tidak benar maka tinggal satu kebenaran yaitu agama telah memasuki fenomena manusia dan mengatur detik-detik hidup manusia. Agama malah mengatur siklus kapan seorang menangis, kapan tertawa. Agama campur tangan dalam nasib dan rasa putus asa. Bila mau dicari di mana nilainya maka nilai agama bukanlah terletak dalam menghapuskan tragedi tetapi dalam kemampuan menumbuhkan gairah menghadapi tragedi. Memberi arti kalau hidup memang tidak berarti. Memberikan tujuan kalau hidup tidak punya tujuan!