Buku Adam Smith, The Wealth of Nations tidak kurang merangsang tanggapan yang serba bertolak-belakang. Ada yang memuja-muji dan ada yang mencaci-maki. Yang memuji mengatakan bahwa buku tersebut melancarkan suatu kekuasaan dan pengaruh yang menguntungkan terhadap pendapat umum dan legislasi dunia beradab, yang tidak pernah dicapai oleh karya-karya mana pun yang pernah terbit. Buku tersebut bukan saja mendasari akan tetapi merupakan kepenuhan dari ekonomi politik. Tetapi di pihak lain tidak kurang pula yang mencaci-maki. Dan yang paling getol adalah seorang yang bernama John Ruskin yang mengatakan bahwa Adam Smith adalah “seorang Skotlandia setengah matang, berotak miring, yang mengajarkan penghujatan terang-terangan: Bencilah Tuhan, Allahmu, injak-injaklah hukumnya dan rampoklah harta-benda tetanggamu.” Yang memuja menganggapnya jenius penemu sistem ekonomi moderen, penemu mekanisme pasar sebagai pengatur paling halus dan tak tampak tetapi mahakuasa dalam kehidupan ekonomi. Bagi pembencinya dia adalah pemberi legitimasi bagi suatu dunia penghisapan seorang terhadap orang lain.
Mengapa Adam Smith begitu merangsang pertikaian pendapat? Dia sebenarnya hanya mencabut keluar motif-motif yang mendorong orang untuk meningkatkan kegiatan ekonominya dan dengan demikian meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Bersamaan dengan itu Adam Smith mengungkapkan apa sebenarnya hakekat manusia dalam masyarakat kapitalis. Untuk sangat mempermudah dia sebenarnya hanya mengajarkan dua hal yaitu tentang self interest, dan hukum alam yang harus dipatuhi oleh hukum ekonomi. Kepentingan diri sendiri adalah dasar perilaku ekonomi manusia dan karena itu dasar dari seluruh analisa terhadap lembaga-lembaga ekonomi. Ungkapannya yang terkenal adalah: Bukan dari kebaikan hati tukang jagal, tukang suling minuman, atau tukang roti, kita mengharapkan makanan kita, akan tetapi dari perhatiannya terhadap kepentingan dirinya sendiri. Kita tidak mengharapkan kemanusiaannya, akan tetapi kepada cinta dirinya sendiri, dan tidak berbicara kepada mereka tentang kebutuhan kita, akan tetapi tentang keuntungannya.
Pertikaian pendapat serupa bagi kita pun belum berakhir, malah baru mulai atau mulai baru lagi. Pertikaian pendapat itu mempersoalkan siapa sebenarnya manusia Indonesia, apa hakekat manusia Indonesia dalam perilaku ekonominya. Apakah hakekat manusia Indonesia adalah makhluk yang mengejar self-interest? Semua menolak cap ini. Di tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia juga menolak cap tersebut. Malah penolakannya diterjemahkan di dalam slogan-slogan yang disebarluaskan tentang tujuh setan kota dan tujuh setan desa. Di zaman partai tersebut sudah mati semua kita menolak cap itu tetapi banyak yang mengakui kenyataan bahwa kepentingan diri sebenarnya menguasai keadaan di mana yang tergolong ekonomi lemah semakin dibuat tidak mampu. Semua menolak cap itu tetapi banyak pula yang mengakui kenyataan bahwa ekonomi kota semakin memeras ekonomi desa, ekonomi moderen semakin memeras ekonomi tradisional. Semua menginginkan suatu cap lain bahwa hakekat manusia Indonesia adalah manusia yang solider dengan sesama, manusia yang prihatin dengan sesama. Namun pertanyaan kita adalah apakah dia sudah atau sedang dalam proses penjelmaan?
Pertikaian pendapat di atas masih berada dalam taraf refleksi. Tetapi ada suatu bentuk pertikaian pendapat dalam bentuk lain yang bukan semata-mata reflektif tetapi sudah dalam bentuk praxis. Di sana refleksi atau teori sudah menjelma dalam aksi. Dan praxis yang kita maksudkan adalah koperasi. Koperasi berusaha menjalankan hakekat manusia Indonesia dalam aksi. Dia lahir di tengah memuncaknya pertikaian antara kaum ekonomi lemah yang harus berhadapan dengan golongan ekonomi kuat pada awal masa kebangkitan nasional. Ketika Bapak-bapak bangsa meletakkan batu-batu sudut negara ini koperasi dianggap sendi-sendi sosial ekonomi, meskipun dalam perkembangannya ia lebih banyak disebut daripada dilaksanakan. Namun, dalam analisa terakhir, mencari arti koperasi dan peranannya dalam kehidupan sosial ekonomi, tidak jauh berbeda dari upaya mencari hakekat manusia Indonesia sendiri.