Prisma

Manusia yang Ditanggungi Jawab

Manusia adalah makhluk yang ditanggungi jawab. Hidup di bumi ini, bersama dengan sesama manusia dan makhluk lain, ia tidak dapat sekedar hidup berhadap-hadapan saja dengan membisu sepanjang waktu. Tidak dapat ia tinggal diam-diam membatu dihadapan berbagai kejadian di sekitarnya tanpa berbuat sesuatu. Apabila kacau bumi ini dan makhluk lain melarikan diri, manusia ditanyai: mengapa semuanya ini? Dan ia harus memberi jawab. Apabila ada banjir melanda yang menyebabkan orang menderita, iapun ditanya: mengapa? Dan tidak cukup ia memberi jawab: memang demikianlah adanya. Sebab ia akan ditanya lagi: lalu apa yang telah kamu buat? Dan sekali lagi manusia harus memberi jawab. Berbeda dari binatang, manusia adalah makhluk yang ditanggungi jawab. Di dalam bahasa orang beriman, semuanya itu diungkapkan begini: Manusia itu diciptakan “menurut gambar Allah”, sehingga ia dapat senantiasa ditanyai oleh Allah sendiri. Sebab manusia itu diciptakan oleh Allah “supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi” dengan segala isinya. Demikianlah menurut Kitab Kejadian 1:26-28. Dan jika di dalam cerita kejadian tersebut dikatakan bahwa Allah, Khalik itu, yang memberi tanggung jawab kepada manusia, maka itu mengungkapkan kesadaran orang beriman tadi mengenai tanggung jawab manusia semuanya dan senantiasa. Tidak mungkin manusia memencil melarikan diri dari pertanggungan jawabnya tersebut. Tidak dapat difikirkan bahwa manusia menciptakan bagi dirinya suatu kedudukan tertinggi yang lepas dari pertanggungan jawab ini. Tidak dapat manusia mengira akan lepas dari pertanggungan jawab kalau ia ada dipuncak tata hidup manusia, di mana tak seorang lagi mengatasinya untuk meminta tanggung jawab daripadanya. Sebab juga di dalam kedudukan itu manusia bertanggung jawab di hadapan Allah, Khalik-nya.

***

Manusia selalu memberi jawab dalam ikatan kenyataan hidup tertentu. Di dalam konteks kongkrit itulah ia ditanya dan harus memberi jawab. Dan konteks kongkrit kita adalah konteks bangsa Indonesia. Kita memikirkan dan membicarakan pokok kita dalam konteks bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat dan merdeka. Tetapi bukan dari semula. Ada sejarahnya. Sejarah perjuangan kemerdekaan. Bangsa Indonesia bukan ada dengan begitu saja. Bangsa Indonesia bukanlah hasil dari suatu proses alamiah. Bangsa Indonesia sesungguhnya adalah jawab kita di dalam konteks tertentu, seperti jelas terungkap di dalam “Sumpah Pemuda”. Adalah kehendak kita untuk menjadi satu bangsa Indonesia. Dan jawab yang kita beri ini menuntut banyak daripada kita. Sudah banyak harus kita beri demi kesatuan bangsa. Tetapi masih lebih banyak lagi yang diminta dari kita di waktu yang akan datang. Seperti sudah dikatakan, manusia tidak akan henti-hentinya ditanya dan tidak akan henti-hentinya pula memberi jawab. Itulah hidupnya. Dan sekarang ini, apabila hendak disimpulkan dalam satu kata, jawab kita adalah Pembangunan! Apa yang dimaksud sebenarnya?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan