Prisma

Marco Kartodikromo: Perintis Jurnalis Pemegang Prinsip Pergerakan*

Dunia jurnalistik berkembang sesuai dengan zaman. Tantangan yang dihadapi dengan motto “berani karena benar, takut karena salah” dijalankan apapun resikonya. Menurut Razif, tokoh Mas Marco Kartodikromo dapat dikatakan turut mewakili prinsip tersebut dalam pers dan zaman pergerakan Indonesia.

Jurnalis harus bisa berdiri sendiri juga yang keras hati dan tidak boleh main komidi, guna mencari enak sendiri (Marco Kartodikromo, Sinar Hindia, 14 Agustus 1918).

DARI sekian banyak tokoh perintis kemerdekaan hanya segelintir yang mendapat tempat dan perhatian dalam penulisan sejarah Indonesia moderen. Salah seorang yang patut untuk diperhitungkan di antaranya adalah Mas Marco Kartodikromo. Selain tokoh pergerakan nasional yang cukup senior, dia setidak-tidaknya dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh semacam Tjipto Mangoenkoesoemo dan Dr. Soetomo.

Marco lahir di Cepu 25 Maret 1897 dan meninggal dalam pembuangan di Digul tahun 1932, akibat malaria dan penyakit paru-paru yang dideritanya. Mungkin kesulitan menulis anak Jawa ini karena dia benar-benar tokoh sejarah dan bukan tokoh “tiupan”. Selain itu, karena Marco meninggal di tempat yang sangat jauh dari tanah kelahirannya, menyebabkan kesulitan untuk penelusuran detik-detik akhir perjalanan politiknya. Kamp konsentrasi Digul (Pulau Irian) tidak hanya menguburkan jasmaninya sekaligus menutup segala kemungkinan para “perusuh” atau “pemberontak” lainnya untuk berhubungan dengan dunia luar.1 Kesulitan lain dalam menulis seseorang terletak pada metode penulisan sejarah “konvensional” yang cenderung mengkotak-kotakkan secara ideologis antara Islam, nasionalisme atau komunisme. Metode penulisan semacam itu di satu sisi menghasilkan penulisan yang sempit yakni memenjarakan seorang pelaku sejarah pada salah satu ideologi dan organisasi tertentu. Di sisi lain, mengabaikan proses dinamika pergerakan nasional yang banyak menghasilkan “anak-anak” seperti, surat kabar, rapat umum, pemogokan, perhimpunan dan partai. Maka sudah saatnya untuk melangkah lebih jauh mengenai penulisan tokoh pemimpin pergerakan yang dilupakan, dan kerapkali terlupakan, pada konteks zamannya. Konteks di sini artinya menggali gagasan pemikirannya dengan mengaitkan hubungan-hubungan sosial masyarakatnya.2


* Saya banyak berhutang kepada teman-teman Pusat Pengkajian Budaya, Depok yang telah memberikan sumbangan pemikiran pada draft tulisan ini. Sudah barang tentu tanggungjawab terakhir untuk tulisan ini ada pada saya sepenuhnya.

1 Berdasarkan catatan S.L. van der Wal, De Opkomst van de Nationalistische beweging in Nederlands-Indie.

2 Untuk penulisan sejarah yang bersifat dinamis seperti ini, lihat misalnya Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan