
J.A.C. Mackie (ed.), The Chinese in Indonesia, akan menggunakan orang-orang Cina di Thomas Nelson (Australia) Ltd. dan The Asia Tenggara sebagai agennya. Australian Institute of International Affairs. Karya kedua ini juga mengemukakan adanya 1976. Not. Bibl. Glos. Ind., x + 282 hal. nya pelbagai perilaku politik yang dianut
Buku ini merupakan kumpulan lima karya yang diantarkan oleh J.A.C. Mackie dan Charles A. Coppel sebagai karya pertama. Sebagai latar belakang, karya pertama ini memberikan keterangan tentang kedatangan dan perkembangan penduduk Cina, kedudukannya, peranan ekonominya dan hubungan RRC-Indonesia yang sedikit banyak mempengaruhi nasib orang-orang Cina di Indonesia.
Pokok-pokok masalah yang utama dikemukakan dalam karya kedua, ketiga dan keempat. Kemudian karya kelima, yang ditulis oleh Wang Gungwu, menyimpulkan ketiga karya terdahulu.
Karya kedua yang ditulis oleh Charles A. Coppel mencoba mengemukakan keanekaan perilaku politik orang-orang Cina di Indonesia dan sekaligus hendak membantah bahwa orang Cina hanya tertarik pada usaha mencari untung belaka, atau andaikata mereka berkecimpung dalam politik maka mereka bertindak sebagai agen Partai Komunis Cina atau Kuo Min Tang atau bahkan bekerja sama dengan penjajah. Dalam hal itu, pembelaan yang dilakukan oleh buku ini sejalan dengan S. Fitzgerald (Duta Besar Australia untuk RRC) dalam bukunya China and the Overseas Chinese (1972). Fitzgerald mengemukakan bahwa mustahil RRC
orang-orang Cina di Indonesia dalam pelbagai zaman. Yang pertama, ialah perilaku politik dalam apa yang disebut “sistem perwiria”. Hal ini terjadi pada zaman penjajahan Belanda yang memaksakan kepemimpinan golongan Cina dengan jalan mengangkannya berdasarkan kepentingan Belanda. Walaupun pemimpin semacam ini terasing dari golongannya sendiri, namun sistem perwiria ini bisa bertahan selama tiga abad karena tiadanya pemimpin jenis lain maupun organisasi politik lain yang memperhatikan ataupun mengurus kepentingan orang-orang Cina. Baru pada permulaan abad ke dua puluh, ketika nasionalisme di Tiongkok mulai timbul, maka kepemimpinan Cina menjadi lebih penting.
pinan yang dipaksakan Belanda itupun menghadapi tantangan dan tentangan dari orang-orang Cina di Indonesia yang sudah mulai kena pengaruh nasionalisme Cina. Pola yang pertama inipun berulang kembali-li-meskipun dengan beberapa modifikasi-pada zaman penjajahan Jepang. Pemerintah Jepang juga mengangkat pemimpin-pemimpin Cina yang pro-Jepang sebagai pembantu Jepang untuk memper mudah pengaturannya. Pada waktu ini semua orang Cina dianggap sama.