Prisma

Masalah Integrasi Nasional di Indonesia

Tiga puluh satu tahun telah berlalu sejak sejumlah cendekiawan berkumpul di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, untuk bersama-sama, atas nama rakyat Indonesia, mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pengumuman mereka, yang ditanda-tangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, tersebar luas di kepulauan Indonesia dan menyebabkan amat banyak orang menyatakan dukungan mereka pada pengumuman amat singkat tapi amat penting ini, dukungan yang kemudian malah dinyatakan dengan pengorbanan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru ini terhadap usaha bekas penjajah untuk kembali berkuasa di kepulauan Indonesia.

Empat puluh delapan tahun telah berlalu sejak sejumlah pemuda, sejumlah cendekiawan muda, berkumpul di Jalan Kramat 106, Jakarta, untuk bersama-sama menyatakan keputusan mereka bahwa “Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia; kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”. Keputusan ini sangat mempengaruhi perkembangan lanjutan dari masyarakat Indonesia, malah menjadi pedoman pokok dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan penduduk daerah jajahan Hindia Belanda dan kemudian usaha mempersatukan para warga negara Republik Indonesia.

Tapi, pemersatuan para penduduk yang menurut undang-undang yang berlaku adalah warga-warga negara Republik Indonesia—integrasi nasional—masih merupakan masalah. Tentu kebanyakan orang tidak sadar bahwa integrasi nasional merupakan masalah. Tentu banyak orang tidak bersedia menerima kenyataan bahwa masih ada masalah integrasi nasional yang belum teratasi sepenuhnya. Tentu juga cukup banyak orang yang malah membantah dengan tegas bahwa nasion Indonesia, bangsa Indonesia, menghadapi masalah integrasi nasional dan malah menuduh orang-orang yang menunjuk pada kenyataan yang bersangkutan sebagai pengacau, pengkhianat.

Marilah kita perhatikan bagaimana perwujudan masalah integrasi nasional di kelupaan kita agar supaya bersama-sama kita ikut berusaha mengatasi masalah yang sebenarnya menentukan masa depan bangsa dan negara kita.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan