Prisma

Masalah Kesehatan di Kampung-kampung Kota Besar

Pendahuluan

Sejak jaman dahulu kesehatan merupakan masalah yang rumit dan susah dipecahkan. Dalam sejarah dan kitab-kitab suci kita dapat membaca betapa takutnya orang terhadap penyakit kusta, pes, kholera dan penyakit-penyakit lainnya. Masalah kesehatan ini tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Bahkan letak daerahpun mempengaruhi jenis dan jumlah penyakit. Pada negara berkembang, persoalan ini tidak hanya kita dapati pada daerah-daerah yang jauh dari pusat, akan tetapi juga pada kota besar. Keadaan kesehatan di dalam kota besar dipengaruhi juga oleh arus urbanisasi pada suatu kota yang ada pada negara berkembang1.

Di Indonesia masalah kesehatan merupakan masalah nasional yang pemecahannya merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Masih banyak didapatkannya kasus-kasus kebutaan akibat kekurangan vitamin A, keadaan tidak sehat dan tidak sakit dari penduduk, masih didapatkannya busung lapar dan kelaparan secara berkala – terutama di daerah minus atau pada musim paceklik – adalah masalah-masalah yang harus di atasi. Selain itu, tingginya angka kelahiran (lebih dari 2%), dan tingginya frekwensi infeksi juga merupakan masalah kesehatan. Tingginya angka kelahiran, tingginya frekwensi infeksi, kelaparan berkala serta masalah-masalah kesehatan lainnya merupakan ciri-ciri dari suatu negara berkembang2.

Dalam rangka pendidikan untuk menciptakan dokter yang mengerti masalah-masalah kesehatan yang ada, maka mahasiswa kedokteran harus dibiasakan menghadapi masalah kesehatan dalam masyarakat serta memecahkannya. Untuk itu mahasiswa kedokteran tersebut harus terjun langsung ke masyarakat, menemukan masalahnya serta ikut menanggulanginya. Keuntungan lain yang dapat diambil ialah dapat diketahuinya masalah yang ada di daerah tersebut sehingga ikut membantu pemerintah untuk mengatasinya. Kecuali itu, untuk memecahkan persoalan yang timbul, dibutuhkan pula kerja sama dengan instansi-instansi pemerintah, swasta dan perguruan tinggi, dan mahasiswa kedokteran akan belajar bagaimana cara bekerja sama secara serasi.

Atas dasar pemikiran ini maka untuk penerapannya dibutuhkan daerah kerja bagi para mahasiswa kedokteran tersebut. Daerah kerja dapat berupa daerah pedesaan (rural) dan daerah perkotaan (urban). Dalam rangka menentukan daerah kerja, dipilih suatu daerah sub-urban yang terletak di dalam kota. Daerah semacam ini banyak dijumpai di dalam kota Jakarta, sehingga masalah yang ada di wilayah seperti ini mungkin tidak banyak berbeda dengan daerah-daerah sub-urban, yang ada dalam kota.


1 Ansley Y. Coale and Edgar M. Hoover, Population Growth and Economic Development in Low Income Countries, Princeton University Press, Fifth printing Princeton, (N.J.), 1958. Ernest B. Harper and Arthur Dunham, Community Organization in Action, 1966, Association Press, New York.

2 Ansley Y. Coale and Edgar M. Hoover, Ibid.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan