Prisma

Masalah Mayoritas—Minoritas di Indonesia*

Ada dua pendekatan dalam penelitian mengenai masalah mayoritas—minoritas: a. pendekatan sosial psikologis, yang mengambil individu sebagai satuan analisa dengan tekanan utama pada teori-teori ideologi dan kepribadian, terutama teori-teori tentang prasangka1, b. pendekatan sosial struktural, yang mengambil kelompok sebagai satuan analisa dengan tekanan utama pada teori-teori ekonomi dan teori tentang status.

Karangan ini akan memakai pendekatan sosial struktural berdasarkan asumsi bahwa persoalan-persoalan yang muncul dari situasi mayoritas—minoritas adalah serba akibat dari hubungan antara kelompok dalam masyarakat. Dengan lain perkataan, masalah mayoritas-minoritas ini akan dipandang sebagai suatu gejala kelompok di mana posisi dan hubungan seorang individu ditentukan di dalam dan oleh konteks kelompoknya. Tempat seseorang di dalam masyarakat dan kesempatan-kesempatan hidup baginya, akan ditentukan oleh status kelompok di mana dia menjadi anggota dan di mana oleh orang-orang lain dia dianggap menjadi anggota. Apabila ia di dalam masyarakat termasuk dalam kelompok berstatus rendah, baginya akan kurang pula kesempatan-kesempatan hidup yang menguntungkan daripada kalau dia termasuk dalam kelompok berstatus tinggi, apapun sifat-sifat pribadinya. Di lain fihak harus dikemukakan pula bahwa dengan pendekatan ini tidak diingkari pentingnya variabel-variabel psikologis dalam hubungan antara kelompok itu.

Apa yang hendak dibicarakan di sini ialah bahwa pendekatan sosial struktural memberikan penjelasan yang lebih memuaskan misalnya atas pertanyaan mengapa seorang anggota dari suatu kelompok minoritas yang telah menerima sistem nilai dan gaya hidup dari dan yang telah sama sekali mengindentifikasiakan dirinya dengan kelompok mayoritas, masih tetap saja menerima perlakuan yang berbeda dengan perlakuan yang diterima oleh anggota kelompok mayoritas lainnya.


* Tulisan ini adalah terjemahan dengan sedikit tambahan dari suatu prasaran berjudul “Majority-minority Situations: Indonesia”, yang diberikan pada Conference on Majority-minority Situations In Southeast-Asia, yang diselenggarakan oleh Association of Southeast Asian Institutes of Higher Learning (ASAIHL), di Manila dari tanggal 8-10 Mei 1974.

1 Lihat Herbert M. Blalock, Jr., Towards a Theory of Minority-Group Relations, (New York: John Wiley and Sons, Inc., 1967), terutama bagian mengenai “Macro-level Studies of Discrimination and Leadership” hal. 10-36, Chapter 2, Chapter 3 dan terutama bagian mengenai “Middleman Minorities”, hal. 79-84.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan