Laporan-laporan yang santer dalam Kompas dan berbagai suratkabar lainnya pada bulan-bulan Agustus, September, dan Oktober 1977 jelas menunjukkan bahwa terdapat sekian masalah tentang pengangguran, persediaan pangan yang tak memadai, pemilikan tanah, korupsi dalam program Bimas, merosotnya hasil panen padi, dan terlambatnya kredit serta penggunaan pupuk di daerah-daerah pedesaan Pulau Jawa. Berikut ini adalah beberapa contoh kutipan berita dari Harian Kompas:
Penunggakan Kredit Bimas (22 September 1977). Lebih dari 55% petani Jawa dan Bali tidak bisa hidup dari hasil tanahnya. (20 November 1976). 88.000 Penduduk 5 Kecamatan di Karawang Menderita-Banyak yang meninggalkan desanya mencari kerja di Ibukota dan Sumatera. (24 September 1977). Banyak Kredit Bimas Jatuh di Tangan Bukan Petani. (21 September 1977). Wereng sulit diberantas dengan insektisida dan pestisida. (5 Oktober 1977). Rawan Pangan di 14 Desa Purwakarta dan 4 Desa di Subang. (10 Oktober 1977). Penduduk 69 Desa di Kabupaten di Cirebon Kekurangan Pangan. (15 Oktober 1977). Minimal 100 Desa dan 71 Kecamatan di Jateng perlu Bantuan Pangan. (15 Oktober 1977). 94 Kecamatan di 18 Kabupaten Jabar Dalam Keadaan Gawat. (13 Oktober 1977).
Di samping masalah-masalah ini, meningkatnya impor beras (2,5 juta ton pada tahun 1977), gula (250.000 ton, tahun 1976), gandum (988.000 ton, tahun 1976), kedele (172.000 ton, tahun 1976), jagung (69.000 ton tahun 1976), dan lain-lain menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami kesulitan dalam usahanya mencapai tujuan untuk berswasembada di bidang produksi pangan.1 Maksud tulisan ini ialah untuk menyelidiki masalah-masalah tersebut dan mencoba memberikan penjelasan tentang apa yang telah terjadi, untuk menunjukkan bahwa masalah utama adalah pengangguran dan pembagian pendapatan, serta untuk memberikan saran-saran mengenai perubahan-perubahan demi perbaikan kesempatan kerja dan pembagian pendapatan yang lebih merata.
Pertama-tama haruslah kita sadari bahwa semua masalah pangan, pendapatan dan kesempatan kerja ini secara lambat telah semakin melaju selama 50 tahun terakhir ini, dan bahwa musim kemarau yang panjang di tahun 1977 serta tekanan penduduk yang meningkat telah memberikan tekanan yang semakin berat atas penduduk dan lembaga-lembaga di desa-desa tersebut dewasa ini. Akibatnya, para petani yang tak memiliki tanah dan petani marjinal selama musim kemarau itu mengalami lebih banyak kesukaran dalam mencari pekerjaan, dan dengan demikian mereka tak punya cukup uang untuk membeli pangan yang memadai bagi keluarganya. Tampaknya hal inilah yang menjadi penyebab utama dari sekian penderitaan yang diberitakan dalam suratkabar.
1 Perkiraan-perkiraan untuk semuanya kecuali beras adalah untuk tahun 1976 dan diambil dari “Survei Tentang Perkembangan Terbaru,” Bulletin of Indonesian Economic Studies, November 1977, hal. 27.