Prisma

Masalah Pencemaran Lingkungan Di daerah Padat Penduduk – Suatu Kasus di DKI Jakarta

Pendahuluan.

Perkembangan kehidupan dari masa kemasa telah membawa pula perkembangan problema-problema yang harus dihadapi oleh manusia dalam hubungannya dengan alam dan lingkungan hidup sekitarnya. Pada tingkat pertama, alam dikenal memiliki daya untuk menyerap secara alami pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh kehidupan dan kegiatan manusia. Pada tingkatan ini di mana penyerapan dilakukan oleh alam secara sempurna, diliskan sebagai keadaan lingkungan hidup yang belum dicemari. Di samping itu kwalitas lingkungan hidup digambarkan pula dengan adanya keseimbangan alam, yang dikenal sebagai pengaturan hubungan timbal balik secara alami diantara mahluk-mahluk hidup dengan lingkungannya. Keseimbangan alam ini pada mulanya masih memberikan kelonggaran pada manusia untuk mendapatkan lingkungan hidup dalam suasana yang menguntungkan.

Dilihat dari aspek kependudukan, khususnya yang terjadi di negara berkembang dengan tingkat pertambahan jumlah penduduk yang tinggi, maka terganggunya keseimbangan tersebut justru dapat bersumber dari laju pertambahan serta kepadatan penduduknya. Selanjutnya kondisi sosial ekonomi penduduk yang rendah serta kurangnya penyediaan prasarana – baik prasarana sosial ekonomi atau fisik – menyebabkan proses memburuknya kwalitas lingkungan hidup menjadi makin dipercepat. Oleh karena dalam keadaan demikian, pengolahan sumber-sumber alam dan pemanfaatan lingkungan hidup dilakukan dengan kecenderungan sikap untuk semata-mata memperoleh manfaat dan hasil yang sebesar-besarnya, dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dalam usaha seringan-ringannya. Cara-cara semacam ini dilakukan tanpa mempertimbangkan – dan juga dalam banyak hal tanpa pengetahuan – akan konsekwensi-konsekwensi jangka panjangnya. Cara-cara semacam ini sedikit demi sedikit membawa akibat yang menjurus ke arah terjadinya kegoncangan dalam keseimbangan alam tadi.

Dalam pada itu dilihat dari sudut pemisan pola-pola sosial ekonomi dan kulturil dari penduduk, dikenal adanya perbedaan antara tata kehidupan dikota disatu fihak dan tata kehidupan didesa difihak lain. Dalam pola fikiran yang lazim kita kenal, perbedaan itu dikategorikan melalui perbedaan tingkat pendapatan, pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, pola dan intensitas komunikasi, tertib pergaulan sosial dan lain sebagainya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan