DALAM beberapa tahun terakhir ini, upaya untuk mengentaskan masyarakat miskin dan kurang beruntung banyak didiskusikan, sejalan dengan semangat pembangunan nasional yang semakin menitikberatkan pemerataan dan demokratisasi, di samping pertumbuhan dan stabilitas. Banyak seminar dan diskusi dilakukan, program intervensi dirancang, dan dana dialokasikan untuk menangani masyarakat miskin. Pengembangan Kawasan Terpadu yang populer selama Pelita V dan kini program Inpres Desa Tertinggal (IDT) adalah dua contoh dari seriusnya usaha untuk mengentaskan kemiskinan. Dalam pendidikan, usaha itu antara lain dilakukan melalui berbagai kegiatan pendidikan untuk membekali masyarakat miskin dengan keterampilan demi mencari nafkah (income generating activities) yang dipadukan dengan Kejar Paket A dan B. Tidak terhitung banyaknya usaha serupa yang dilakukan oleh berbagai LSM/LPSM di Indonesia.
Usaha-usaha itu merupakan perwujudan kepedulian yang mulai tumbuh sejak 1970-an. Saat itu, para ilmuwan sosial “bersuara lantang” tentang perlunya usaha serius untuk mengatasi kemiskinan struktural, akibat struktur yang tidak memungkinkan orang miskin untuk mempunyai akses sosial-ekonomi guna meningkatkan taraf kehidupannya. Kondisi itulah yang (diduga) dialami oleh sebagian besar dari 27 juta rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Salah satu instrumen untuk membantu mereka adalah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan mereka.
Pendidikan dipercayai sebagai wahana untuk memperluas akses dan mobilitas sosial dalam masyarakat, baik vertikal maupun horisontal. Pendidikan juga dipercayai merupakan salah satu instrumen untuk memberantas kemiskinan, sejauh apa yang diperoleh peserta didik relevan dengan kebutuhan hidup mereka. Dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional secara makro, perhatian khusus bagi anak-anak miskin merupakan perwujudan dari persamaan kesempatan (equal opportunity) untuk memperoleh pendidikan dan keadilan (equity). Adalah adil jika anak-anak miskin diberikan perhatian khusus untuk mengkompensasi kelemahannya yang secara struktural melekat dalam dirinya dan lingkungannya.
Perlunya perhatian (khusus) terhadap anak-anak miskin melalui wahana pendidikan didasari alasan bahwa mereka berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan untuk dapat belajar dengan baik dan mencapai hasil yang setaraf dengan kawan-kawannya yang lebih beruntung. banyak bukti mengungkapkan bahwa kemiskinan secara ekonomi mempunyai akibat yang luas terhadap kemiskinan secara fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Secara fisik anak-anak miskin sering sakit-sakitan, kurang bersemangat, mengantuk, dan lusuh. Secara sosial mereka kurang bersahabat, agresif atau sebaliknya pemalu, malas, dan rendah diri. Secara emosional mereka labil dan kurang peka pada kepentingan orang lain. Secara kognitif mereka lemah, kemampuan belajarnya lambat, prakarsanya kurang, dan sulit berkonsentrasi.
Keadaan mereka berbeda dengan anak-anak dari strata sosial-ekonomi menengah dan tinggi. Dalam keluarga, mereka mendapatkan perlakuan yang baik, makanan bergizi sejak bayi, iklim keluarga yang hangat. Sejak umur 4-5 tahun mereka masuk TK yang memungkinkan sosialisasi mereka lebih dini, sehingga ketika masuk SD mereka lebih siap. Penelitian yang pernah saya lakukan di Bandung menunjukkan bahwa kesiapan ini memberikan pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan belajar mereka di SD, terutama di kelas-kelas awal.
Profil Siswa Miskin: Sebuah Kasus
Kita lihat profil anak-anak miskin di sekolah, dengan kasus di sebuah SMP Swasta di pinggiran kota Semarang. Gambaran ini diangkat dari studi yang dilakukan oleh Catharina Tri Ani, dosen IKIP Semarang yang sedang menyelesaikan program Pascasarjana di IKIP Bandung. Respondennya berjumlah 180 siswa SMP yang praktis berasal dari golongan miskin. Mereka dapat melanjutkan ke SMP berkat uluran tangan sebuah yayasan keagamaan yang juga mengelola SMP itu.
Sebagian besar orang tua mereka adalah buruh harian (60%) dan selebihnya petani kecil yang tidak punya tanah (40%). Penghasilan mereka amat rendah: 87% di bawah Rp 75.000 sebulan, dan sisanya antara Rp 75.000-100.000 jadi berada jauh di bawah garis kemiskinan. Uang sebesar itu dipakai untuk menghidupi suatu keluarga rata-rata beranggotakan 4-9 orang. Sebanyak 74% orang tua mereka tidak tamat SD, dan sisanya hanya tamat SD.