Prisma

MASALAH PENDUDUK SEBAGAI TANTANGAN PENDIDIKAN

Semua dari kita mengetahui bahwa Indonesia tergolong dalam Lima Besar didunia ini mengenai djumlah penduduk. Hal ini berarti potensi jang luar biasa; tetapi djuga dapat berarti sumber masalah jang tidak sedikit. Sebahagian besar dari kita mungkin djuga telah mengetahui bahwa Indonesia tergolong dalam lima (tiga?) kelompok negara jang potensil sangat kaja akan sumber2 alam tetapi mungkin masih lebih banjak dari kita jang melihat betapa sulitnja kehidupan dibagian tertentu dari bumi ini. Betapapun, kita semua tahu bahwa kita baru mulai membangun, bahkan baru sampai pada tahap2 pendahuluan dari proses pembangunan. Kita baru sempat memikirkan pembangunan ekonomi dan sosial untuk kepentingan nasional setelah bangun dari belenggu dan sembuh dari penjakit. Dan seperti halnja dengan hampir semua negara jang mengalami pendjadjahan, perang saudara, revolusi serta krisis2 politik dunia sebagi rentetan sedjarah kolonial menudju sedjarah nasional, pada suatu saat kita menghadapi kondisi jang begitu parah oleh karena the revolution of rising expectation berhadapan diametral dengan berbagai bentuk dan djenis keterbelakangan, seperti misalnja pengolahan jang primitif terhadap sumber2 alam, Adanja kehidupan ekonomi tertutup, rendahnja tingkat konsumsi, produksi serta penghasilan nasional, rendahnja mutu kesehatan dan gizi masjarakat, serta rendahnja standar pendidikan umumnja. Haruslah kita sadari benar2 arti perkembangan jang dihadapi Indonesia, karena walaupun kondisi2 serupa itu terdapat dinegara ini, Indonesia bukanlah keketjualian. Kalau kita mengambil sadja percapita GNP dibawah $ 600 setjara rata2 sebagai sebuah indikator untuk negara2 jang sedang berkembang, maka pada pertengahan dekade jang baru lalu tergolong didalamnja seluruh negara di Afrika (ketjuali Libia), seluruh Asia (ketjuali Djepang, Israel, Kuwait, Siprus) seluruh Amerika Latin (ketjuali Argentina dan Venesuela), beberapa negara di Eropah, dan hampir semua daerah Oceanian1.

Bagi negara2 jang sedang membangun itu sudah djelas bahwa sektor ekonomi jang terutama harus diperkuat. Pengembangan sumber tenaga manusiapun dilihat dan diperhitungakan dari sudut ekonomi. Akan tetapi problematik pengembangan sumber


1 Atlas Bank Dunia: Populasi dan Produk Per Kapita, Washington, D.C. Bank Rekonstruksi dan Pembangunan Internasional, 1968.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan