Negara-negara berkembang di Asia Tenggara telah lama menyadari pentingnya sumber-sumber alam yang berhubungan dan berkorelasi langsung dengan pembangunan ekonomi. Sumber alam ini, bersama dengan 200 juta sumber tenaga manusia, merupakan modal ekonomi kita yang utama. Bidang pertanian menyerap sekitar tiga perempat tenaga kerja dan di kebanyakan negara sedang berkembang menghasilkan lebih dari separuh produksi dan pendapatan nasional.
Di kawasan ini, setiap hari terdapat cukup sinar matahari yang perlu untuk tumbuhnya tanaman, dan hampir di mana-mana curah hujan cukup banyak untuk sedikitnya memungkinkan satu musim tanam dalam setahun, tanpa irigasi. Berjuta-juta kilometer persegi kawasan ini ditutupi hutan belantara yang mengandung cadangan hutan tropis yang memiliki arti ekonomi. Malaysia adalah penghasil karet alam terbesar, Muang Thai dan Birma merupakan lumbung beras sedang di Pulau Sumatera dan Kalimantan tersedia sekitar satu juta hektar tanah yang akan dilola dalam waktu lima tahun mendatang sebagai daerah pertanian padi.
Di wilayah ini terdapat beberapa sungai besar seperti Irawadi, Mekong, Musi dan Barito yang dalam musim kering dapat dilayari sampai beribu-ribu kilometer ke daerah pedalaman. Garis pantai Asia Tenggara cukup panjang (Indonesia sendiri meliputi 61.000 kilometer), dua landas kontinen seluas kira-kira 788.400 mil persegi, serta banyak teluk besar dan kecil. Ini saja cukup menunjukkan adanya sumber-sumber laut yang potensiil seperti ikan, ganggang laut dan binatang-binatang lain yang dapat dimakan, maupun minyak bumi dan pelapukan mineral rombakan.
Di wilayah Indonesia dan Filipina terdapat ratusan gunung berapi aktif, yang lebih banyak menguntungkan daripada merugikan. Gunung berapi tidak hanya membawa kesuburan daerah seputarnya, tetapi juga ke daerah-daerah lain yang berjauhan dengan penyebaran debunya. Gunung berapi aktif ini juga merupakan aquifer yang baik, berkat tingkat permeability yang tinggi dari bahan-bahan erupsi sedang reliefnya yang tinggi menyebabkan kondensasi dan curah hujan lebat. Gugusan gunung berapi ini dapat dikendalikan guna menghasilkan energi panas bumi (geotermis), yang kini sedang dikembangkan di Indonesia dan Filipina. Filipina, Sabah, Sulawesi, Halmahera dan bagian utara Irian Jaya mengandung deposit porfir tembaga porphyry terbesar di kawasan Asia Tenggara.
* Tulisan ini pada mulanya adalah kertas kerja yang dikemukakan pada Fifth International Symposium on Energy, Resources and the Environment di Kuala Lumpur, tanggal 18 Februari 1975, kemudian pada Simposium Masalah Energi, Sumber-sumber Alam dan Lingkungan Hidup di Jakarta, tanggal 25-28 Februari 1975. Tulisan ini kemudian diberikan kepada Prisma dengan terjemahan dan penyesuaian.