Prisma

Masalah Penghitungan Distribusi Pendapatan di Indonesia

Dalam tahun 1970-an dilakukan beberapa penghitungan distribusi pendapatan yang menghasilkan angka yang berbeda satu dengan yang lain. Perhitungan angka Gini Coefficient yang sering diadakan belum sanggup memberikan jawaban jelas tentang distribusi pendapatan ini. Hananto Sigit membuat uraian tentang sebab-sebab perbedaan itu serta melihat masalah teori yang melatarbelakangi perhitungan pembagian pendapatan ini dan jenis data yang dipergunakan. Agaknya sudah tiba saatnya dicari sebab-sebab perbedaan angka yang dihasilkan selama ini dan rekonsiliasi apa yang dapat dipakai, terutama untuk perhitungan Gini Coefficient selanjutnya.

Prisma edisi Februari 1976 mengemukakan sketsa selayang pandang tentang pembagian pendapatan di Indonesia. Yang bisa dikemukakan pada waktu itu masih terbatas. Belum banyak penelitian dilakukan, dan kalaupun ada, hasilnya masih bersifat sementara. Keterbatasan data merupakan hambatan utama.

Sejak itu penelitian distribusi pendapatan di Indonesia mengalami kemajuan. Dalam arti secara kuantitas tulisan yang ada sudah jauh lebih banyak, dan sumber data juga lebih lengkap. Tetapi gambaran tentang tingkat dan perkembangan distribusi pendapatan di Indonesia masih seperti tiga tahun yang lalu. Belum ada gambaran cukup jelas berapa tingkat distribusi pendapatan di Indonesia. Hasil perhitungan yang ada menunjukkan perbedaan-perbedaan yang cukup besar, karena beragamnya cara dan data yang dipergunakan.

Tulisan ini berusaha mengupas sebab-sebab perbedaan itu. Dengan demikian tulisan ini akan menyinggung masalah teori yang melatarbelakangi perhitungan pembagian pendapatan, dan jenis data yang dipergunakan. Data yang digunakan umumnya adalah data pengeluaran konsumsi atau data pendapatan yang dikumpulkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Cara perapian data sebelum dipakai untuk penghitungan sangat mempengaruhi angka Gini Coefficient yang dihasilkan. Di samping itu, unit kalkulasi, apakah individu atau rumahtangga menyebabkan angka Gini mempunyai arti yang berbeda. Karena itu sebenarnya membaca angka Gini Coefficient memerlukan pengetahuan bagaimana angka itu diperoleh. Karena terbatasnya tempat dan waktu penulisan, ulasan yang diberikan di sini sangat singkat dan tidak mencakup segala aspek mengenai distribusi pendapatan. Hanya distribusi pendapatan antar penduduk/rumahtangga saja yang dicakup.

Latar belakang

Penghitungan distribusi pendapatan di Indonesia pernah dilakukan oleh Sundrum (1973) dan dalam masa-masa Pelita ini pertama kali dilakukan oleh Dwight Y. King dan Peter Weldon (1975). Setelah itu dalam waktu yang relatif singkat bermunculan angka-angka distribusi pendapatan, antara lain yang merupakan hasil kerja dari Von Guinneken (1976), Hendra Esmara (1974 dan 1978), Perera (1977), Sam Poli (1978), Prasun Sen Gupta (1976), Syamaprasad Gupta (1977) dan oleh suatu kelompok analisa di Biro Pusat Statistik 1979. Untuk sektor padi sawah di pedesaan Jawa Tengah pernah dihitung distribusi pendapatannya oleh Irlan Sujono dan Achmad T. Birowo (1976). Kiranya tidak ada bidang lain yang dalam waktu demikian singkat telah banyak menarik minat para peneliti. Persoalan pembagian pendapatan ini terasa karena ekonomi kita mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Dalam ekonomi yang statis perbedaan tingkat pendapatan masyarakat yang ada bisa diterima oleh masyarakat, tidak menimbulkan persoalan, karena memang sejak dulu “dia” orang kaya dan “dia” orang miskin.

Persoalan mulai timbul jika terjadi perubahan status quo tersebut ke arah perbedaan yang lebih melebar. Lebih-lebih jika terjadi pergeseran-pergeseran di dalam suatu kelas karena adanya perbedaan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Hal ini sering terjadi dalam ekonomi yang tumbuh dengan cepat, yang biasanya menimbulkan perubahan struktur berupa pergeseran dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Sektor-sektor pertambangan, industri manufaktur, dan jasa-jasa mengalami pertumbuhan jauh lebih cepat dari sektor pertanian. Perubahan pembagian pendapatan juga disebabkan karena adanya perbedaan status employment. Ada pengusaha, buruh, pegawai, pekerja sendiri, dan ada pula pekerja keluarga. Perbedaan status pekerjaan inilah yang terutama menyebabkan pergeseran-pergeseran pembagian pendapatan dalam suatu sektor ekonomi. Jadi, kalau meleburnya perbedaan antar sektor sebenarnya dapat diterima, karena mau tak mau pasti terjadi perbedaan pertumbuhan produk antar sektor sebagai akibat pertumbuhan ekonomi, perbedaan dalam suatu sektor antar employment status hendaknya dijaga jangan makin melebar. Perbedaan kondisi regional (pulau/urban-rural, dan sebagainya) juga memiliki kontribusi dalam tidak meratanya pembagian pendapatan. Sudah tentu masih banyak sebab-sebab lain yang mengakibatkan tidak meratanya distribusi pendapatan, terutama yang berhubungan dengan faktor-faktor yang menentukan pendapatan itu sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan