Prisma

Masalah Penurunan Angka Kelahiran

Aspek-aspek Sosial Budaya dan Program*

Baik di negara maju maupun di negara berkembang telah berlangsung penurunan fertilitas, meskipun terdapat perbedaan faktor penyebabnya. Namun dapat dipastikan bahwa program keluarga berencana yang dilakukan di berbagai negara termasuk Indonesia telah memberikan dampak global. Di Indonesia program KB berjalan lancar seiring dengan kemajuan sosial ekonomi, dan keduanya bahkan saling mendukung. Bagaimana dampak penurunan fertilitas terhadap kehidupan rumahtangga agaknya harus menjadi kajian di masa mendatang.

Pendahuluan

Sejak dahulu kala telah banyak pemikir yang mengemukakan pendapatnya mengenai masalah penduduk, seperti Konfusius, Plato, Aristoteles, Ibn Khaldun, Giovanni Botero, Malthus dan lain-lain. Ahli filsafat Kong Hu Cu (551-479 SM) dan pengikutnya, begitu juga ahli-ahli Cina kuno telah mempunyai pandangan mengenai jumlah penduduk yang optimum, yang dikaitkan dengan pertanian. Kata mereka, kalau tidak terdapat perimbangan yang baik antara jumlah penduduk dan tersedianya lahan maka akan timbul kemiskinan. Karena itu pemerintah bertanggung-jawab untuk memindahkan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya.

Plato dan Aristoteles melihat perlunya penduduk yang optimum, tidak hanya dari sudut ekonomi tetapi juga dari segi pengembangan potensi penduduk. Jumlah penduduk negara kota dikaitkan dengan kesejahteraan dan pertahanan tetapi jangan pula terlalu besar supaya pemerintahan yang konstitusional dapat berjalan dengan baik. Plato menganggap jumlah penduduk sebuah negara kota sebanyak 5.040 adalah ideal. Menurut Plato jumlah penduduk yang terlalu banyak dapat dikurangi dengan kolonisasi, sedangkan Aristoteles menyarankan pembunuhan bayi (child exposure) dan aborsi.

Berbeda dengan orang-orang Greek yang melihat persoalan kependudukan dari sudut negara kota, orang-orang Romawi melihatnya dari keperluan suatu negara yang besar. Jumlah penduduk yang besar mereka anggap sebagai aset dan karena itu pertambahan penduduk perlu dirangsang.

Pada zaman pertengahan, penulis-penulis Kristen melihat persoalan penduduk dengan perspektif lain. Mereka tidak melihat persoalannya dari sudut keperluan duniawi tetapi menyorotinya dari segi etik dan moral. Mereka mengutuk aborsi, pembunuhan bayi (infantisida), anak ditelantarkan, perceraian dan poligami dan sebaliknya menjunjung tinggi keperawanan, abstinensi dan menganggap selibasi lebih luhur daripada perkawinan walaupun diakui hanya sesuai untuk segelintir orang.

Pada zaman moderen awal dan abad pertengahan ahli-ahli Barat cenderung menginginkan pertambahan penduduk. Hal-hal yang mempengaruhinya adalah ditemukannya negeri-negeri jajahan yang dinamakan Dunia Baru (New World) dan meningkatnya perdagangan antara Eropa dan Asia.

Aliran merkantilis yang berkembang di Eropa pada abad ke XVII dan XVIII menganggap pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk yang besar merupakan keuntungan ekonomi, politik dan militer. Negara-negara Merkantilis mempunyai kebijaksanaan melindungi industri dan perniagaan negeri masing-masing. Merkantilisme mempunyai perhatian yang besar kepada hubungan antara kependudukan dan perdagangan luar negeri.

Kemudian muncul Robert Malthus (1766-1834) dengan teorinya, bahwa penduduk akan tetap miskin karena jumlahnya cenderung berlipat dalam kurun waktu 25 tahun sedangkan peningkatan sarana kehidupan lebih lambat, yakni menurut deret hitung. Jumlah penduduk yang berlebih akan dikendalikan oleh perang, bahaya kelaparan dan bencana alam. Untuk mengatasinya Malthus hanya menyarankan penundaan usia kawin.

Aliran ekonomi klasik pada abad ke XIX sejalan dengan teori Malthus, mengemukakan terjadinya diminishing return setelah melewati titik optimum: aliran ini mengkaji sebab dan akibat dari dinamika kependudukan untuk menemukan “hukum” tingkat dan kecenderungan produksi, upah, bunga, sewa dan laba. Mereka mangajukan teori yang jauh lebih canggih dari Malthus dan mendukung hipotesis bahwa pertumbuhan penduduk cenderung menurunkan upah dan menimbulkan kemiskinan.

Sebaliknya penulis-penulis sosialis dan Marxis sejak awal abad ke XIX menyangkal adanya masalah kependudukan atau beranggapan bahwa masalah itu akan terpecahkan setelah masyarakat mengalami reorganisasi. Mereka beranggapan bahwa kemelaratan bukan karena pertumbuhan penduduk yang tak terkendali tetapi karena kepincangan distribusi pendapatan dan kepincangan-kepincangan lainnya di dalam tatanan masyarakat.


* Ringkasan dari Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada yang diucapkan di muka Rapat Senat Terbuka Universitas Gadjah Mada pada tanggal 9 Februari 1994 di Yogyakarta.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan