Pendahuluan
Tujuan utama dari pembangunan Indonesia ialah meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkuat landasan masyarakat untuk pembangunan tahap berikutnya. Untuk mencapai tujuan utama ini, ada dua komponen penting dalam strategi pembangunan pertanian, yaitu a. meningkatkan pendapatan petani dan b. memperluas kesempatan kerja dalam sektor pertanian.
Usaha peningkatan pendapatan petani dapat dilaksanakan dengan pelbagai cara. Apabila perkembangan harga-harga dan lingkungan sosial masyarakat pertanian dapat dianggap baik, maka usaha peningkatan pendapatan itu dapat dicapai dengan meningkatkan produksi pertanian. Produksi pertanian dapat dinaikkan dengan a. memperluas dan menambah sumber alam dan tenaga manusia yang diperlukan, dan b. meningkatkan produktivitas sumber alam dan tenaga manusia yang diperlukan. Cara yang kedua ini terutama dicapai dengan meningkatkan teknologi pertanian. Mengingat terbatasnya modal dan tenaga trampil, maka dalam REPELITA II, peningkatan teknologi merupakan strategi pembangunan pertanian yang diutamakan.
Pelaksanaan kebijaksanaan teknologi pertanian dan perluasan kesempatan kerja memiliki jalinan yang luas dan beraneka ragam dengan keadaan dan struktur sosial masyarakat. Luas dan beraneka ragamnya jalinan sosial ini mencakup mulai dari pelaksanaan BIMAS padi, palawija, ayam sampai modernisasi perikanan di pantai Laut Jawa. Kadang-kadang diperoleh pengamatan, bahwa pelaksanaan kebijaksanaan peningkatan teknologi dan kesempatan kerja itu tidak bisa dilaksanakan dalam wilayah dan bidang yang sama dengan intensitas yang sama. Dalam beberapa hal, malah terdapat pertentangan antara kebijaksanaan meningkatkan teknologi pertanian dan memperluas kesempatan kerja.
Dalam karangan ini akan dicoba dikemukakan berbagai aspek sosial ekonomi dari peningkatan teknologi dan perluasan kerja dalam sektor pertanian, khususnya yang memerlukan perhatian utama dalam pelaksanaan REPELITA II 1974 – 1978. Sebagian dari buah fikiran yang diungkapkan di sini telah disajikan dalam karangan-karangan terdahulu1. Beberapa dari pemikiran itu kini diperbaharui, disesuaikan dengan adanya data dan pengamatan baru.
1 Lihat A.T Birowo, “Pembangunan Pertanian dan Strategi Industrialisasi Indonesia”, Prisma, Tahun I No. 5. Agustus 1972, hal. 29–35; dan “Aspek Kesempatan Kerja dalam Pembangunan Pertanian di Indonesia, Prisma, Tahun II No. 4, Agustus 1973, hal. 3–16.