Prisma

Masyarakat Pedesaan dalam Pembangunan: Mengembangkan Teknologi Berwajah Manusiawi

Setiap mesin yang menolong orang mendapat tempat, tetapi semestinya tidak ada tempat bagi mesin yang memusatkan kekuasaan di tangan orang sedikit dan mengubah massa menjadi pengurus mesin, lebih-lebih kalau membuat mereka menjadi penganggur.

Gandhi

Teknologi dalam pembangunan

Kalau peradaban umat manusia sepanjang masa selalu merupakan hasil interaksi antara orde teknologis, orde sosial dan orde ideologis, masyarakat kita dalam fase pembangunan sekarang juga menghadapi masalah yang menyangkut pelbagai dimensi dari proses modernisasi sebagai proses yang senantiasa menyertai pembangunan itu.

Kita mengetahui bahwa teknologi tidak berkembang lewat satu jalan, dan pelbagai peradaban memiliki teknologi yang berbeda-beda.

Kalau pada satu pihak harapan kita sangat besar terhadap peranan teknologi dalam pembangunan, pada pihak lain timbullah kesadaran bahwa apa yang dinamakan penentuan nasib sendiri teknologi sangat esensial bagi pembangunan nasional kita.

Kita menghadapi permasalahan bagaimana teknologi dapat membuat akomodasi terhadap lingkungan di Indonesia, baik yang biologis, maupun yang sosial atau kultural. Di sini tampillah suatu permasalahan mengenai salah satu pendekatan dalam pembangunan.

Pembicaraan tentang pendekatan dalam pembangunan pada hakekatnya mencakup masalah tujuan serta prinsip-prinsip etika pembangunan yang mendasarinya.

Pembahasan tentang tujuan memerlukan postulat tentang hasil yang ingin dicapai bagi rakyat 140 juta, khususnya 100 juta yang hidup di pedesaan. Pada hakekatnya suatu diskusi mengenai pembangunan dan teknologi yang akan digunakan akan menyentuh soal preferensi nilai-nilai, dengan perkataan lain, perencanaan pembangunan senantiasa memiliki implikasi etis. Kalau kecenderungan teknokrasi menitikberatkan perkembangan ekonomi yang nyata-nyata telah mewujudkan hasilnya, ialah kemajuan teknis yang melembaga, kemajuan moral menjadi cita-cita pendekatan manusiawi untuk mencapai kesejahteraan rakyat serta memperbaiki kualitas hidup dengan mewujudkan nilai-nilai dan kemajuan moral yang melembaga.

Tujuan dan pendekatan pembangunan

Baik tujuan maupun pendekatan berkaitan dengan model pembangunan yang hendak dikembangkan. Apabila nilai ekonomis yang diutamakan, maka yang menjadi tujuan pembangunan ialah produksi tinggi, konsumsi tinggi dan pertumbuhan per kapita tinggi pula.

Dalam bidang sosial-politik akan ditonjolkan pembentukan struktur-struktur kelembagaan dengan diferensiasi peranan, sedang dalam bidang kultural perlu ada pengarahan kepada sikap baru yang sesuai dengan situasi yang semakin kompleks sifatnya.

Dalam proses modernisasi struktur-struktur sosial perlu diperluas dan fungsi-fungsinya menjadi semakin spesialistis. Transformasi sikap perlu diusahakan lewat pendidikan dan sosialisasi sehingga timbul dinamika di kalangan masyarakat pedesaan.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, maka di dalam melancarkan pembangunan di mana-mana telah dicoba pelbagai macam pendekatan. Sudah barang tentu pendekatan ini tidak terlepas dari nilai-nilai baik manusiawi maupun sosial yang mendasari usaha pembangunan, yaitu seperti apa yang sering disebut etika pembangunan.

Oleh karena pertumbuhan yang diusahakan lewat pembangunan terbukti sering tidak mencapai petani miskin pedesaan, maka telah dilaksanakan pendekatan “Redistribusi dan Pertumbuhan”, yaitu suatu kombinasi antara pertumbuhan dan peningkatan tingkat pendapatan, terutama di daerah pedesaan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan