* Artikel ini merupakan pengembangan dari kuliah publik yang disampaikan dalam peringatan “10 Tahun Yayasan TIFA”, Jakarta, 8 Desember 2010.
Banyak upaya untuk mewujudkan kebaikan bersama di negeri ini mandek karena kita tidak cukup kritis terhadap dogmatisme yang hendak menyingkirkan semua argumen rasional tentang bagaimana merawat bangsa. “Masyarakat terbuka” adalah sebuah gerak pencarian cita-cita berlandaskan rasionalisme kritis. Bagaimana kita membaca hal ideal itu dalam konteks keindonesiaan yang penuh dengan irasionalitas dan “kebebasan” yang lebih banyak ditentukan oleh “fundamentalisme pasar”? Kondisi yang sekarang menjerat kita adalah ultraliberal atomis dan atomistik yang sesekali ditabrak oleh kekuatan-kekuatan tribal sektarian dalam bentuk sektarianisme agama, etnis, dan sebagainya.