Prisma

Mati Karena Kurang Obat?

I. Wolffers, Druppels tegen armoede — Organon in de Derde Wereld. De Fontein, Baarn 1983, Belanda; halaman 160. (Tetes-tetes melawan kemiskinan — Organon di Dunia Ketiga).

Benarkah bisa melawan kemiskinan dengan obat-obat jenis “X”, dengan : minum tiga kali sehari, misalnya, 3–5 tetes? Ivan Wolffers, penulis buku ini, berkata bahwa banyak orang di Eropa berpikir: Kirimlah obat-obatan ke Dunia Ketiga — termasuk Indonesia —, karena di sana manusia mati agak terlampau cepat! Di Volta Hulu, misalnya, umur rata-rata manusia hanya 39 tahun, sedangkan di Amerika Serikat 71,3 tahun! Kemudian juga kirimlah tenaga kesehatan dan apotik. Dan orang-orang yang berhati baik pun, tergugah oleh himbauan itu, mulai menyimpan dan mengumpulkan obat-obatan yang sudah tak pakai. Semua itu kemudian dikirim ke negara-negara “yang belum berkembang”, misalnya — sebagian kecil — melalui misi; tetapi yang paling banyak melalui perusahaan-perusahaan kimia seperti: Hoechst, Bayer, Ciba-Geigy, Takeda, “dan 26 perusahaan multinasional farmasi terbesar lainnya” (hal. 55).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan