Prisma

Mau ke Mana Kita dengan Pembangunan Ekonomi Ini?

Jurang pendapatan internasional yang tetap lebar Laporan Bank Dunia tahun 1978 menunjukkan, bagaimana sesudah usaha selama hampir tiga dasawarsa dan tiga program internasional “dasawarsa pembangunan”, yakni sejak 1950 hingga tahun 1977 yang lalu, jurang antara tingkatan pendapatan negara-negara yang sudah maju dan Dunia Ketiga tetap lebar.1 Tabel 1 adalah sekedar ringkasan gambaran situasi per observasi tahun 1978, yang mereka sinyalir.2

Ada sebanyak 34 negara Dunia Ketiga yang termasuk kategori “negara pendapatan rendah”, dan Indonesia termasuk salah satu di antaranya. Tingkatan pendapatan per kapita Indonesia tahun 1976, yakni sebesar US$ 240, menempatkan kita sebagai salah satu dari 4 negara yang berada pada posisi teratas dalam kelompok ini. Negara-negara ASEAN lainnya, semuanya, termasuk dalam kelompok “negara pendapatan menengah”—dengan perincian berikut, dilihat dari tingkatan pendapatan per kapita mereka tahun 1976: Thailand US$380, Filipina US$410, Malaysia AS$860, dan Singapura US$2.700. Singapura, bersama 4 negara Dunia Ketiga lainnya, telah berada di ambang pintu kelompok “negara industri”.

Gambaran Bank Dunia di atas menunjukkan, betapa masalah penduduk pada kelompok pendapatan rendah dan menengah merupakan salah satu faktor penghambat pertumbuhan yang lebih cepat. Perkembangan penduduk di negara industri makin melambat, padahal kecepatan perkembangannya sejak 1960 telah berada jauh di bawah kebanyakan negara Dunia Ketiga, baik yang dari kelompok pendapatan rendah maupun menengah. Hanya ada 3 negara Dunia Ketiga yang bernasib baik, meskipun penduduknya berkembang secara fantastis—yakni, Arab Saudi, Libia, dan Kuwait, yang kesemuanya termasuk kelompok “negara pengekspor minyak dengan surplus modal.”

Berkaitan dengan masalah penduduk ini, secara langsung atau tidak, Bank Dunia juga menunjukkan masalah dualisme ekonomi desa dan kota, pengangguran, kurangnya pendidikan dan kesehatan, sebagai penyebab jurang yang tetap lebar ini. Menarik pula, betapa hambatan-hambatan sosial, politik, dan administratif, juga dikemukakan sebagai masalah yang tak mudah dipecahkan—biarpun oleh pemerintah yang memiliki dedikasi yang besar untuk mengubah pola pembangunan ekonomi atau pola distribusi jasa-jasa yang berasal dari pemerintah.3³

Dengan situasi ini, harus diakui, bahwa meskipun negara-negara yang sedang berkembang telah berhasil membangun perekonomiannya, sekitar 800 juta penduduk dunia—sebagian terbesar di Dunia Ketiga—masih hidup dengan kondisi kemiskinan absolut.


1 Lihat: IBRD, World Development Report, 1978, Washington DC, Agustus 1978, terutama Tabel 1 “Basic Indicators,” hal. 76-77, dan Tabel 2 “Growth of Production,” hal. 78-79.

2 Ibid., diringkaskan dari Tabel 1.

3 Ibid., khususnya Tabel 17, hal. 108-109, dan Tabel 18, hal. 110-111, masing-masing tentang “Health-Related Indicators” dan “Education.” Kemudian tentang hambatan-hambatan non-ekonomi, lihat hal. 66.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan