Prisma

Media: Sebab atau Akibat

Ternyata tidak mudah menentukan apakah sesuatu itu sebab ataukah akibat dari sesuatu yang lain. Sudah puluhan tahun ketidakpastian tentang apakah media massa adalah sebab atau akibat kemajuan masih membayangi kita. Ada saat di mana hampir semua yakin bahwa media massa menjadi benda ajaib pelipat-ganda kemajuan di bidang lain. Di sana sadar atau tidak media massa dianggap sebagai sebab kemajuan.

Dalam tahun-tahun terakhir muncul suara-suara yang meragukan kesimpulan tersebut. Banyak penelitian membuktikan bahwa hubungan media massa dengan kemajuan adalah tidak langsung. Menganggap komunikasi dalam dirinya menghasilkan perubahan sama halnya dengan mengatakan bensin menghasilkan transportasi. Bensin hanya berfungsi bilamana semua yang lain sudah siap sehingga kedatangan bensin memungkinkan transportasi. Demikian pula komunikasi. Dan kehidupan desa yang langgeng tanpa media, di mana hubungan antar-pribadi lebih berperan, semakin memperkuat pendapat ini.

Di sini mulai disangsikan posisi media massa sebagai sebab. Tidaklah dapat disangkal bahwa ada yang telah merenggut kemajuan melalui media massa moderen. Akan tetapi hal tersebut hanya mungkin berlangsung dalam kesiapan pranata sosial ekonomi yang lain. Media komunikasi bersifat penyumbang yang semakin memacu laju perkembangannya, akan tetapi hal tersebut diperoleh setelah menginjak pelataran kemajuan. Dengan kata lain, media komunikasi dan kemampuan memanfaatkan media untuk meningkatkan perkembangan merupakan akibat dari kemajuan.

Namun, kita rupanya sudah begitu yakin dan berusaha meyakinkan orang desa bahwa media adalah kebutuhan. Bila demikian halnya maka kita sedang menyibukkan diri dengan suatu dunia lain yaitu dunia simbolik. Bila kita mengatakan bahwa media komunikasi mampu menciptakan perubahan, sebenarnya hanyalah cara lain dari mengatakan bahwa komunikasi merombak konsepsi orang tentang diri dan dunia sekitarnya dan yang terpenting tentang tindakan yang akan diambil untuk mengubahnya. Kalau ini yang terjadi, maka kita telah memilih suatu sistem berpikir. Demikian kita terlibat kembali dalam perdebatan yang tak akan habis dengan jalan berpikir lainnya yang mengatakan dunia materi, struktur sosial ekonomi menentukan sistem berpikir seseorang.

Mencari tahu apakah media komunikasi adalah sebab atau akibat tidaklah penting dalam dirinya sendiri. Namun dia menjadi penting karena media sebagai sebab atau media sebagai akibat memilih jenis kebijaksanaan masing-masing, terlebih tentang apa yang harus diubah terdahulu. Bilamana media massa merupakan akibat, maka perubahan yang menjadi landasan kemajuan pertama-tama seharusnya berlangsung dalam sistem sosial-ekonomis. Boleh jadi bagi petani persoalannya bukanlah sekedar mengenai pupuk dan bibit unggul yang akan diwartakan, tetapi tempat di mana pupuk ditabur dan bibit ditanam: tanah.

Dalam kerangka berpikir semacam ini perubahan struktur pemilikan tanah jauh lebih menentukan daripada media massa. Kemakmuran bertumpu di sana dan kemiskinan bersumber dari sana. Media massa hanya berfungsi pelengkap, dan tujuan. Atau untuk mundur selangkah sebelum menarik kesimpulan tersebut maka kita katakan: hanya suatu perubahan struktural menjadi langkah pertama menuju kemajuan.

Sistem berpikir yang menempatkan media komunikasi sebagai tujuan, secara sadar menetapkan media sebagai sebab. Karena itu media menjadi sasaran. Media diharapkan menjadi benda ajaib yang mengubah jalan berpikir dan sikap orang desa. Bila ternyata petani tidak tergerak oleh yang ajaib, maka tidak ada kesimpulan lain daripada bahwa petani kolot, terbelakang, dan tidak mampu menghargai kemajuan. Pemecahannya: berikan lagi koran, radio, tape-recorder kepadanya, agar mereka membaca, mendengar pesan-pesan kemajuan. Pesan diharapkan menyentuh hati dan karena itu petani bakal berubah sikap. Lantas hasil pertaniannya bakal berlipat ganda, dan kemakmuran pun datang. Namun jauh-jauh hari para ahli mengingatkan bahwa media massa tidak saja melipat-gandakan kemajuan. Media adalah pisau bermata dua. Dihadirkan secara tepat dalam struktur sosial ekonomis yang tepat dia menjadi benda ajaib. Tetapi bila tidak tepat dia menjadi pemborosan dan malah bisa membuka lebar jurang antara yang kaya dan miskin justru karena perbedaan kemampuan menyerap pesan yang disampaikan media.

Kebijaksanaan mengirim koran ke desa menempuh jalan berpikir yang menganggap media sebagai sebab. Namun, bila itu yang dianut, maka senantiasa harus disadari bahwa hubungan antara komunikasi dan kemajuan tidak langsung. Karena itu optimisme terhadap media seharusnya dibatasi oleh sikap yang realistis. Realisme di sini tidak berarti lain daripada menyadari sepenuhnya akibat-akibat bila media dianggap sebagai sebab.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan