Prisma

Memahami Kemiskinan di Kota

Apa yang sebenarnya menjadi dasar suatu kebijaksanaan untuk memecahkan masalah kemiskinan di kota-kota? Sikap mana yang berada di balik kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut? Kebijaksanaan dan sikap tertentu sangat boleh jadi bertumpu di atas teori-teori yang dikemukakan tentang kemiskinan. David Baker mengulas ketiga masalah di atas yaitu, jenis kebijaksanaan, sikap dan teori yang mendasarinya. Kebijaksanaan bisa berbeda, sikap bisa berbeda dan teori pun beragam jenisnya, namun semuanya punya satu kesamaan yaitu mereka adalah pandangan dari atas dan karena itu program adalah program dari atas. Menurut penulis hal ini menunjukkan status kaum miskin yang sebenarnya, yaitu bahwa mereka tidak pernah menjadi tempat bertanya.

Ada sedikit perbedaan pendapat tentang siapa yang miskin dalam Dunia Ketiga dewasa ini. Mengapa mereka miskin, adalah persoalan lain, dan orang berlomba-lomba berusaha untuk mengajukan sejumlah penjelasan serta teori untuk mencari jawaban terhadap masalah tersebut. Namun demikian, pembahasan-pembahasan teoritis tentang kemiskinan di kota kerapkali dikesampingkan, dianggap sebagai spekulasi abstrak, yang lebih baik dibatasi saja dalam kehidupan santai universitas-universitas. Para pemegang kebijaksanaan seringkali mengajukan dalih, bahwa tindakan dalam dunia yang nyata menuntut pembuatan program, bukan teori belaka. Terdapat pula kritik yang sejalan, bahwa riset mutakhir tentang kondisi-kondisi di kota seringkali berusaha mengukuhkan posisi-posisi teoritis dan dengan demikian mengumpulkan data yang hanya sedikit-atau sama-sekali tidak relevan dengan persyaratan operasional para pembuat program. Suatu pemerincian lebih jauh dari kritik ini akan berlawanan dengan kebutuhan para pembuat kebijaksanaan atau manager, untuk mencapai hasil-hasil yang nyata dengan teori para ilmuwan yang idealis mengenai kesejahteraan atau kemakmuran. Perbedaan terletak antara manusia-manusia praktis dengan tukang mimpi dan hal ini seringkali memang beralasan.

Para ilmuwan mungkin menjawab, bahwa suatu pengertian yang jelas tentang sifat dan sebab-musabab sebuah problem diperlukan, untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai. Di samping itu, kegagalan yang nampak di dalam diri manusia praktis untuk memecahkan atau bahkan, memperbaiki keadaan kemelaratan di kota dapatlah dikaitkan pada kegagalan mereka untuk memahami masalahnya. Hal ini menjuruskan mereka untuk mengobati gejalanya saja, bukannya penyakit itu sendiri, yang sama artinya dengan mencoba mengobati sakit kepala yang disebabkan oleh tumor otak, dengan aspirin. Sakit kepala itu mungkin berkurang untuk sementara, tetapi pada akhirnya penderita itu akan mati.

Perdebatan yang mempersoalkan antara kepraktisan dan teori, secara khas diselesaikan dengan menunjuk kenyataan, bahwa keduanya merupakan bagian-bagian yang penting dari ilmu pengetahuan yang berguna. Setelah memantapkan hal nyata ini, maka kedua pihak dapat kembali melakukan hal-hal yang dituntut oleh lingkungan masing-masing, yaitu menjadi teoritikus ilmiah atau menjadi orang praktis. Namun demikian, teori-teori tentang sebab musabab dan penanggulangan kemiskinan agak lebih tersebarluas daripada yang umumnya diakui, yang artinya sama dengan menyatakan, bahwa teori yang tegas dan jelas dari para ilmuwan, tidak begitu jauh berbeda dengan teori-teori atau asumsi-asumsi yang tidak teruji dan implisit dari para birokrat atau pemegang kebijaksanaan. Kebanyakan program harus dibenarkan dalam beberapa hal terhadap seseorang dan untuk ini diperlukan suatu pengertian mengenai kemujaraban teknik-teknik yang dimaksud.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan