Sejarah Indonesia mencatat Soekarno sebagai manusia yang penuh kontroversi dalam kepribadiannya dan senantiasa menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan bangsanya. Dia adalah tokoh besar yang memiliki sejumlah kelebihan sekaligus kekurangan yang membuatnya tak selalu berhasil mewujudkan gagasan-gagasan besarnya. Kepada Cindy Adams, misalnya, Soekarno mengatakan bahwa dirinya kerap dikutuk seperti bandit dan dipuja bagaikan dewa. Dalam menjalani hidup, Soekarno tidak jauh dari hal yang bersifat kontradiktif; pergumulan antara nasib mujur dan malang yang berujung tragedi.
Satu bulan setelah kudeta yang mengantar kejatuhan Presiden Soekarno, terbit sebuah buku berjudul Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams. Buku ini ditulis oleh seorang wartawan berkebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams. Setahun kemudian, tepatnya pada Juni 1966 dan atas restu Menteri/ Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Suharto, buku itu diterjemahkan Mayor TNI Angkatan Darat Abdul Bar Salim ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Penerbit Gunung Agung dengan judul Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.3 Namun buku terjemahan ini tidak diterbitkan lagi ketika Suharto diangkat sebagai Pejabat Presiden pada 12 Maret 1967 dan dilantik menjadi Presiden pada 27 Maret 1968. Pada saat itu, pemerintah Orde Baru Suharto mulai “menggencarkan” de- Soekarnoisasi, termasuk pelarangan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.
De-Soekarnoisasi agak sedikit “mereda” pada akhir tahun 1970-an. Pada 21 Juni 1979, Presiden Suharto meresmikan pemugaran kompleks makam Bung Karno di Blitar. Sejak itu mulai banyak beredar buku-buku tentang Soekarno dengan tema kepahlawanan.4 Buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sendiri diterbitkan kembali pada 1982 dan beberapa kali dicetak ulang. Pada 2007, buku terjemahan karya Cindy Adams mengenai otobiografi Bung Karno ini diterjemahkan ulang.5 Menurut Yayasan Bung Karno sebagai pihak penerbit, edisi revisi ini dimaksudkan untuk meluruskan pelbagai keliruan yang terdapat dalam edisi sebelumnya yang sempat menimbulkan kesalahpahaman pada beberapa tokoh nasional Indonesia (hal. xiii-xiv). Bahkan Ketua Dewan Pendiri Yayasan Bung Karno Guntur Soekarno Putra berharap buku edisi revisi ini dapat menghilangkan kesalahpahaman tersebut dan bisa memberi pengertian lebih baik mengenai Bung Karno.