Prisma

Mempersatukan Struktur, Ruang dan Waktu: Sebuah Kritik terhadap Pendekatan Pascastrukturalis

Kaum pascastrukturalis terjerat dalam kebingungan epistemologis tentang struktur: basis dan/atau suprastruktur. Mereka malah membuang konsep struktur dan menggantikan materialisme historis dengan materialisme budaya. Padahal untuk sekedar memahami masyarakat, konsep struktur yang bergerak dialektis dari tingkat abstrak ke konkrit tetap mampu menjelaskan kenyataan sosial.

KAMI tidak setuju dengan kalangan pascastrukturalis, yang menolak penggunaan konsep struktur sebagai alat untuk menganalisa fenomena sosial. Bagi kalangan pascastrukturalis, yang juga menyebut diri pascamoderenis, penggunaan konsep struktur dianggap sebagai kebebalan pendekatan determinisme ekonomi yang mengalami kejayaan pada tahun 60-an. Para pascastrukturalis/pascamoderenis berpegang pada prinsip kerelatifan epistemologi. Mereka berpendapat bahwa tidak ada kebenaran universal. Karena sudut pandang bersifat relatif, maka tidak ada yang namanya kebenaran mutlak dari suatu sudut pandang tertentu. Konsep struktur mereka tolak, dengan anggapan bahwa pendekatan ini menempatkan struktur sebagai suatu kebenaran universal, sebagai penentu utama dalam semua interaksi sosial.

Perdebatan mengenai validitas penggunaan konsep struktur sebetulnya merupakan perdebatan kuno yang sudah ada pada jaman Marx masih hidup. Perdebatan ini berpusat pada masalah pertentangan antara struktur dan aksi. Apabila struktur (dalam arti struktur kepemilikan alat-alat produksi) dianggap sebagai penentu utama dalam semua interaksi sosial, manusia tidak dianggap sebagai aktor aktif. Manusia dianggap sebagai sekrup-sekrup yang tidak mempunyai pilihan lain, selain memainkan berbagai peran yang didiktekan struktur.

Yang akan kami kritik adalah pendekatan dikotomis struktur-aksi tersebut, yang mempertentangkan keharusan struktural dengan kemampuan manusia untuk bertindak aktif dan kreatif. Konsep dikotomisasi struktur-aksi ini dianut kaum strukturalis maupun kaum pascastrukturalis/pascamoderenis, meskipun mereka sampai pada kesimpulan teoritis yang berlawanan. Sebagai alternatif, kami akan menguraikan pendekatan dengan memakai metode cara-berpikir yang bergerak dari konsep abstrak menuju ke realitas konkrit, atau singkatnya kami sebut pendekatan abstrak-konkrit. Kami akan menunjukkan bagaimana pendekatan abstrak-konkrit ini berhasil memanfaatkan konsep struktur, tanpa mengklaim suatu kebenaran mutlak universal, yang ditentang oleh kaum pascastrukturalis/pascamoderenis.

Pertama-tama, kami akan sedikit mengulas konsep pendekatan struktur-aksi. Sebagai contoh dari kalangan pascastrukturalis/pascamoderenis yang menolak penggunaan konsep struktur, kami tampilkan pendirian Raymond Williams.1 Williams merupakan contoh menarik yang tidak setuju dengan pemisahan antara base dan superstructure. Menurutnya, secara teoritis para Marxis tidak mampu menjelaskan bahwa superstructure itu bersifat material, bukan merupakan sesuatu yang bersifat ideal yang dipertentangkan dengan base yang bersifat material. Yang menjadi masalah, Williams kemudian sama sekali menolak menggunakan konsep struktur. Kami tidak bermaksud melakukan debat teks Williams. Kami sendiri lebih menekankan pada pembahasan masalah epistemologi ilmu-ilmu sosial. Sedangkan, karya Williams hanya kami gunakan sebagai ilustrasi salah satu pendekatan yang menolak menggunakan konsep struktur.

Kritik terhadap pendekatan Williams, yang masih terjebak dalam pendekatan struktur-aksi, akan diikuti dengan ulasan tentang pendekatan alternatif yang bergerak dari konsep abstrak menuju ke realitas konkrit.

Pendekatan Struktur-aksi

Hubungan antara keharusan struktural dan kemampuan manusia untuk bertindak aktif dan kreatif sudah amat sering dijadikan bahan perdebatan dalam ilmu-ilmu sosial. Apabila struktur dianggap mempunyai tiga unsur mendasar: kemenyeluruhan (wholeness), transformasi, dan pengaturan diri (self-regulation), maka elemen-elemennya – yaitu: manusia – tidak mempunyai pilihan lain tunduk kepada hukum keseluruhan struktural.2 Pendekatan mekanistis dalam analisa sosial ini memperlakukan manusia sebagai korban yang tak berdaya dari struktur. Struktur dianggap mempunyai kemampuan mempertahankan atau mentransformasi berbagai sistem hubungan yang ada. Karena itu, kadangkala, kita mendengar argumen bahwa struktur tidak mungkin diubah; tapi pada waktu lain, kita mendengar bahwa berbagai hubungan struktural akan membawa kepada keruntuhan struktur itu sendiri. Pendekatan struktural ini menganut pendapat bahwa manusia hanya dapat melakukan tindakan (aksi) seperti yang didiktekan oleh garis-garis keharusan struktural.

Kita sudah mendengar banyak reaksi yang menentang pendekatan struktural semacam ini. Memang, ada beberapa kritik yang lebih menjanjikan solusi teoritis dibandingkan dengan yang lain, tapi secara keseluruhan tidak ada yang berhasil memberikan alternatif pendekatan yang memuaskan. Kegagalan ini terjadi karena mereka terperangkap dalam pemikiran dikotomis struktur-aksi yang bersifat ahistoris. Perdebatan teoritis tentang base dan superstructure, yang kemudian juga muncul dalam bentuk perdebatan dikotomis struktur-aksi, merupakan contoh terjelas.


1 Acuan kepada Raymond Williams dalam karangan ini terutama pada bukunya, Marxism and Literature (New York: Oxford University Press, 1977).

2 Christopher Lloyd, Explanation in Social History (Oxford: Basil Blackwell, 1988), hal. 238.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan