Kebanyakan perjuangan sebelum Hatta hanyalah menentang Belanda yang berarti masih berada dalam satu dataran berpikir dengan Belanda: pemerintahan Hindia Belanda mungkin ada baiknya, hanya di sana sini tidak adil sehingga perlu ditentang. Tetapi dengan tampilnya asas non-koperasi, perjuangan tiba pada dataran yang sama sekali baru. Di sana Belanda bukan ditentang, tetapi Indonesia berdiri sejajar dan bertarung dengan Belanda. Inilah cara berpikir dalam suatu paradigma yang baru. Parakitri Tahi Simbolon mempersoalkan apakah kini kita mampu mendapatkan dataran berpikir baru?
Pengantar
Dalam suatu pertemuan yang disebut “Seminar Trace Baru” di Jakarta tahun 1966, bekas Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta, di depan generasi muda saat itu, menguraikan pokok-pokok gerakan kemerdekaan Indonesia. Dalam uraian itu dipaparkan dengan sangat jelas tahap-tahap peningkatan kesadaran pergerakan sejak dari sekedar usaha bersifat sosial belaka sampai tingkat mencapai Indonesia Merdeka lewat strijd op eigen kracht en kunnen, perjuangan di atas kekuatan dan kemampuan sendiri.
Tingkat perjuangan tersebut terakhir ini dikatakan terumus secara lambat laun semenjak Indische Vereniging menjadi Indonesische Vereniging tahun 1922, lalu jadi Perhimpunan Indonesia di tahun 1925 sebagai wadah perkumpulan para pemuda Indonesia di negeri Belanda. Bersamaan dengan itu nama majalah Hindia Poetra diganti jadi Indonesia Merdeka, sehingga lengkaplah pernyataan tujuan baru dari perhimpunan, yakni kemerdekaan Indonesia.
Kenyataannya sejarah ini menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu sampai 20 tahun lamanya bagi pergerakan nasional untuk sampai pada tahap baru perjuangan yang tidak lagi membayangkan tercapainya kemerdekaan lewat konsesi-konsesi atau minta-minta maupun tuntut-tuntut, tapi lewat eigen kracht en kunnen, lewat kemampuan dan kekuatan sendiri.
Pengertian strijd op eigen kracht en kunnen ini kemudian lebih dikenal dengan sikap non-cooperatie yang menjadi asas perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia baik di negeri Belanda maupun di Indonesia, terutama sejak lahirnya PNI pertengahan tahun 1927 yang menyatakan dengan tegas prinsip ini sebagai asas perjuangannya.
Dalam “Seminar Trace Baru” tahun 1966, Dr. Mohammad Hatta memberikan uraiannya untuk menunjukkan kepada generasi muda waktu itu bagaimana 40 tahun sebelumnya generasi semacam mereka selalu memainkan peranan menentukan dalam perjuangan bangsa. Waktu itu generasi muda kembali menunjukkan kepeloporan, dan dalam situasi yang nampak mungkin mengecutkan hati, tokoh co-proklamator itu mengharapkan kebulatan tekad dan keteguhan seperti ditunjukkan generasinya bertahun-tahun yang silam.
Tapi apa yang terkandung dalam uraian tersebut, namun tidak ditekankan waktu itu bahkan sangat mungkin belum pernah atau jarang sekali kita sadari, adalah sepuluh kali lebih penting daripada sekedar contoh kepeloporan pemuda. Fakta sejarah itu menunjukkan bahwa pada akhir tahun 20-an untuk pertama kali dan sangat mungkin kali satu-satunya (seperti hendak dijelaskan dalam tulisan ini) masyarakat Nusantara abad moderen berhasil menemukan teori umum kemasyarakatan sekaligus merupakan asas kehidupan mereka yang diperhadapkan dengan asas kehidupan yang lagi dominan: kolonialisme.