Kelahiran adalah perpindahan dari satu dunia ke dunia yang lain. Di saat seorang anak lahir, dalam keadaan terbaring dia berhadapan dengan suatu dunia yang asing dan tidak bersahabat. Secara harfiah dia berhadapan dengan dunia karena di sana dua muka bertatapan. Dia berdiri di hadapan suatu dunia yang keras, serta dingin terhadapnya. Dia tidak berdaya. Namun di depannya juga adalah dunia yang harus dia tundukkan atau dia sendiri akan ditundukkan.
Di dalam kandungan ibunya dia dikelilingi suatu dunia yang gelap; namun di sana dia mendapatkan yang terpenting di dalamnya yaitu rasa aman. Tetapi dengan tiba-tiba dia terlempar ke dalam suatu dunia lain yang benar-benar asing, keras. Karena itulah pengalaman pertama tersebut menggemparkan sang anak. Dalam ketakberdayaan meledak sebuah tangis. Tangis adalah sebuah purba-pengalaman. Dia menggemparkan karena itu pengalaman tersebut menjadi trauma. Tetapi tiba-tiba muncul sesuatu yang menarik di sana. Paradoks kehidupan terjadi di saat-saat awal tersebut. Tangisan traumatik yang memelas justru dibalas dengan ketawa girang dan rasa syukur orang dewasa. Tangisan menjadi bukti baginya, sang bayi lahir hidup dan menggabungkan diri dalam kehidupan. Yang tak berdaya mendapatkan perlindungan dalam ribaan ibu.
Ada suatu pengalaman lain segera menyusul. Dia tidak pernah dialami sang bayi dalam kandungan ibu. Pengalaman itu getir adanya: untuk pertama kali dia rasa lapar dan dahaga. Namun sebagaimana dalam purba-pengalaman, di sini juga menyusul suatu pengalaman lain yaitu menyusu pada ibunya. Dengan dipangku dan menyusu seorang anak menjadi warga bumi yang bukan saja bergabung dalam kehidupan tetapi mengambil bagian dalam kehidupan. Maka terjadilah hubungan sosial pertama, di mana dua jenis hubungan dialami serentak yaitu secara fisik mengalami kehadiran sang ibu di sampingnya. Dan secara psikis menghirup rasa aman. Dan mulailah saat sang bayi memberi arti bagi keluarga.
Namun betapa pun mesra hubungan, anak harus meninggalkan dunia tersebut. Sebagaimana di saat lahir dia harus melepaskan kesatuan ragawi dalam kandungan ibu, berpisah untuk lantas bersatu lagi dalam pangkuan ibu, maka ketika beranjak dewasa dia harus mengambil jarak. Meninggalkan ibu, sanak saudara, keluarga untuk mencari dirinya sendiri. Maka keseluruhan struktur pengalaman anak bisa disaksikan suatu fenomena gerak. Gerak mendekat dan menjauh. Terlalu dekat pada ibu, dia hanya menjadi anak mami yang cengeng sepanjang hidup, terlalu jauh dia menjadi orang yang hilang keseimbangan. Yang seharusnya terjadi adalah gabungan dialektis antara mendekat dan menjauh, antara persatuan dan distansi. Dan dalam keseluruhan geraknya dia bertualang mencari dan mencari. Namun yang terpenting bukanlah gerak itu sendiri, akan tetapi dalam proses gerak itu dia mencari dan bertemu. Dia bertemu dengan dunia, dia bertemu dengan keluarga, dia bertemu dengan pendidik dan sesama manusia, dan dalam semua pertemuan itu akhirnya dia menemukan dirinya sendiri. Dan kita katakan dia telah menjadi dirinya sendiri dan mendapatkan selfhood dan menjadi pribadi. Dan para ahli pendidikan mengatakan menjadi dewasa tidak lain daripada menyiapkan agar seorang menjadi matang untuk bertemu dengan dunia dan manusia: begegnungsreif.
Dan sebaliknya juga terjadi; orang dewasa menemukan kembali dirinya di dalam anak-anaknya. Yang dewasa menjadi semakin dewasa, yang perkasa jadi semakin perkasa karena bertemu dengan anaknya yang lemah dan tak berdaya. Dengan kata lain semua pengalaman bergabung jadi satu. Semua bertemu dengan semua. Maka terbentuklah suatu lingkungan pendidikan, dan lingkungan itu total sifatnya.
Tentu saja bukan semua pertemuan menyenangkan, dan membahagiakan. Tidak kurang pertemuan membawakan bencana serta pemusuhan; dan pertemuan semacam itu beralih bentuk menjadi kutukan. Krisis yang terjadi dalam lingkungan pendidikan keluarga adalah bilamana anak tidak dapat bertemu dengan orangtuanya. Krisis berikutnya adalah bilamana anak-anak tidak dapat bertemu lagi dengan guru-gurunya di sekolah. Kalau tertutup kemungkinan untuk bertemu satu sama lain maka yang lahir adalah bencana. Dan orang berbicara tentang krisis kaum muda, krisis pendidikan karena: tujuan menghilang, tujuan dihancurkan (Marshall McLuhan).
Namun paradoks awal yang terjadi pada saat kelahiran senantiasa berulang dalam hidup. Tangis sang bayi di saat lahir dibalas dengan tawa gembira orang dewasa. Tangisan ternyata bukan pertanda maut tetapi bukti kehidupan. Di sanalah optimisme, karena optimisme tidak sama dan sebangun dengan kesenangan, kegembiraan dan keberhasilan. Optimisme adalah suatu sikap yang membuka perspektif baru. Di sana tertanam keyakinan bahwa masih ada matahari di balik kelamnya awan. Yang ideal adalah bahwa setiap orang menemukan sendiri sikap ini, lantas mengalaminya sendiri. Namun, pendidikan dan lingkungan pendidikan seharusnya menyiapkan kemungkinan dan peralatan ke sana. Masih mampukah sistem pendidikan kita menyandang perannya?
Edisi ini diterbitkan dengan kerjasama UNICEF