Prisma

Meneropong Sejarah Pergerakan Buruh

Bambang Sulistiyo PEMOGOKAN BURUH, Sebuah Kajian Sejarah. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1995 (xi + 202 halaman, termasuk indeks dan lampiran)

Sejarah perlawanan rakyat dalam historiografi Indonesia, baru muncul dalam trend ilmu sejarah di Indonesia setelah Sartono Kartodirdjo menulis karya puncaknya tentang Pemberontakan Petani Banten 1888. Disertasi ini mengawali upaya penulisan sejarah yang berwatak rakyat-sentris. Kecenderungan baru tersebut mendobrak watak lama historiografi yang elite-sentris (istanasentris), yang mengesampingkan rakyat sebagai salah satu pelaku sejarah. Menurut James Scott, sampai dengan Perang Dunia II, rakyat kecil tidak dianggap sebagai pelaku sejarah, namun lebih dianggap sebagai “penyumbang tak dikenal”, sebagai angka-angka statistik untuk kepentingan pendaftaran dalam hal pajak, migrasi, tenaga kerja, penguasaan tanah dan produksi pertanian.

Jika Sartono Kartodirdjo melakukan pendobrakan historiografis terhadap perlawanan kaum tani abad XIX, maka Takashi Shiraishi membongkar perspektif historiografi kolonial dalam masa sejarah pergerakan rakyat pada dua dekade awal abad XX. Dalam buku An Age Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926, dia mengkritik karya sejarah pergerakan yang cenderung mengandung bias kolonial. Para sejarawan, baik Indonesia maupun asing, [Indonesianist] melihat pergerakan sebagai upaya sebuah bangsa yang sedang mencari namanya.

Pencarian ini diwujudkan dengan munculnya organisasi-organisasi. Dalam historiografi kolonial — yang dipelopori Petrus Blumberger — ada upaya untuk memilah watak (organisasi) pergerakan secara ideologis sehingga sampai sekarang analisis tentang pergerakan masih mengacu pada “penelanjangan” organisasi pergerakan dan bukan “proses” pergerakan.

Dengan mengacu pada kritik Takashi Shiraishi tersebut maka upaya penulisan sejarah perlawanan rakyat harus dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan: Siapa yang bergerak? Dalam kondisi apa? Siapa yang ditentang? Apa yang menjadi pikiran dan gagasannya? Apa bentuk media dan wacana yang digunakan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampaknya pantas dilontarkan untuk membaca dan menilai secara kritis karya Bambang Sulistiyo ini.

Buku yang semula merupakan tesis pascasarjana ilmu sejarah ini ingin mengungkap dan mengkaji sejarah perlawanan buruh pabrik gula di Jawa dalam perspektif pergerakan moderen. Sebagaimana yang telah dikemukakan beberapa sejarawan terdahulu, Bambang Sulistiyo juga mencatat bahwa sejak Agrarische Wet diberlakukan pada tahun 1870 Hindia Belanda mengalami perubahan sosial-ekonomi yang mendasar. Saat itulah awal berlangsungnya sistem

kapitalisme perkebunan. Undang-undang Agraria ini menandai dibukanya wilayah Hindia Belanda bagi eksploitasi modal asing swasta (partikelir). Perkebunan besar bermunculan di mana-mana, tanah-tanah rakyat banyak disewa secara paksa. Petani menjadi kuli di tanahnya sendiri. Proses ini memunculkan sikap perlawanan para petani.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan