Pengantar
Meskipun sudah agak terlambat dengan perkembangan terakhir yang terjadi di Iran, tulisan Michel Foucault dengan judul “A Quoi Revent Les Iraniens” yang dimuat dalam Le Nouvel Observateur (18 Oktober 1978) mengandung beberapa “insights” yang patut direnungkan dalam menelusuri perkembangan di negeri “petrogiant” tersebut. Berikut adalah terjemahan yang agak diringkas dari tulisan tersebut. – Redaksi.
“Tampaknya kita tak akan pernah dapat melepaskan diri dari persoalan mereka. Tidak seperti Vietnam.” Saya senantiasa iri kepada jawaban seperti itu: masih lebih lagi dari keharusan melepaskan apa yang telah kita berikan kepada Vietnam. Karena minyak, karena Timur Tengah. Dan sekarang setelah lebih jelas lagi, sehabis Camp David, keharusan melepaskan Lebanon kepada dominasi Syria dan bertambahnya pengaruh Uni Soviet, bagaimanakah Amerika Serikat dapat mengambil posisi yang memungkinkan dia bermimpi tentang peranannya sebagai pemenang perang atau pengawas perdamaian?
Benarkah Amerika Serikat telah mendorong Syah Iran kepada percobaan menggunakan kekuatan senjata, atau “Jumat Hitam” yang kedua? Dibukanya kembali universitas, rangkaian pemogokan, berbagai kesulitan yang muncul dan tibanya masa perayaan-perayaan agama membawakan pementasan adegan berikut: seorang bersenjata menembak mati Moghamdan, tokoh sebenarnya di belakang layar Savak.
Waktu itu jalan keluarnya masih belum tampak. Orang mungkin saja bersandar pada beberapa orang jenderal, tetapi tidaklah mungkin memastikan kesetiaan angkatan perang. Tak ada “bahasa komunis”-dari luar, kalau diingat selama duapuluh lima tahun ini Uni Soviet tak pernah mengusik-usik Iran; kebencian kepada orang Amerika tampaknya sama besarnya dengan ketakutan kepada orang Rusia.
Para penasehat Syah, tenaga-tenaga ahli Amerika, para teknokrat dari suatu rezim yang sedang berkuasa, beberapa kelompok oposisi (yang berasal dari Front Nasional atau mereka yang lebih dikenal sebagai orang-orang yang lebih sosialis), pada minggu-minggu terakhir terjebak oleh “akselerasi liberalisme dari istana” atau faham laisser faire.
Raja dan orang suci
Tiap pembangunan ekonomi yang memberikan coraknya sendiri di Iran telah menunjang rezim yang liberal, moderen dan di Barat-kan. Sebagai tindakan balasan hal ini menimbulkan tekanan luar biasa besarnya dari pihak rakyat, yang meledak tahun ini. Ia memaksa partai-partai politik yang dominan untuk mengubah pendirian, ia melontarkan setengah juta jiwa ke jalan-jalan Teheran untuk menghadapi senapan mesin dan tank-tank. Ia tidak lagi hanya meneriakkan “kematian bagi Syah”, tetapi juga “Islam, Khomeini, kita menunggumu”. Dan juga “Khomeini kepala negara”. Situasi yang ada di Iran menyerupai permainan adu tarik antara dua pemain tradisional:
Sang raja dan si orang suci, penguasa dengan senjatanya dan orang buangan tanpa senjata. Gambaran di atas memberikan kesan jelas tentang polarisasi yang terjadi, tetapi ia menyembunyikan sebuah realitas yang tajam dari justeru kematian yang membawakan tanda-tandanya sendiri. Liberalisme kekuasaan begitu cepat tanpa terhenti, dan ini menimbulkan anggapan tentang integrasi gerakan yang akan dinetralisirnya. Dan langsung saja perkembangan terjadi begitu rupa, hingga sulit memperkirakan ke mana arahnya!