Prisma

Mengikis Phobia Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Mulai nomor ini, Prisma menyajikan tulisan-tulisan bebas, yang tidak berhubungan dengan topik utama, tetapi mempunyai arti yang cukup penting, berhubung relevansinya dengan masalah-masalah yang kita hadapi bersama, baik di bidang keilmuan, kemasyarakatan, kebudayaan, kenegaraan dan sebagainya. Tulisan berikut adalah tulisan semacam itu, dan dengan ini Redaksi mengundang tulisan-tulisan lain dari pembaca dan khalayak yang berminat. Redaksi.-

Mungkin judul tulisan ini terdengar agak sumbang, sehingga tidak mendatangkan asosiasi yang kuat tentang apa yang akan dikemukakan dalam tulisan ini selanjutnya. Benarkah ada phobia dalam dunia ilmiah? Benarkah dunia ilmiah tidak lagi memperhatikan sendi-sendi filsafat yang semula menjadi titik tolak dari kegiatan ilmiah? Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas kiranya telah cukup sebagai pengantar untuk membawa pembaca ke inti masalah yang akan diungkapkan dalam tulisan ini.

Arti filsafat dalam dunia ilmu pengetahuan kontemporer

Penulis tidak akan mempersoalkan bagaimana pandangan ilmiahwan yang sebenarnya mengenai filsafat seperti digali dan diketengahkan oleh para ahli yang kompeten di bidang ini. Untuk bahan yang akan dibahas dalam tulisan ini, penulis telah menganggap cukup dengan mengambil beberapa contoh nyata yang penulis jumpai di tengah-tengah masyarakat ilmiah, yang barangkali juga tidak pernah mendalami arti filsafat sebagaimana mestinya. Seringkali justru ungkapan-ungkapan spontan seperti inilah yang dapat memberikan gambaran tentang arti filsafat “as perceived“, yang berlainan dengan filsafat “as it should”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan