Prisma

Mental: Soal Utama

Ivan Illich hanya disinggung pada awal pembicaraan di Prisma 2/81. Yang ditentang oleh Illich adalah sistemnya, sedang kita mempersoalkan hasilnya. Jalur yang mempertemukan keduanya adalah persetujuan bahwa harus ada sesuatu yang diberikan pada seseorang supaya ia menjadi lebih berbobot seraya berkembang ke arah kedewasaan. Yang menarik, pada kita di Indonesia masih terlalu banyak orang kerdil yang dengan dasar peroleh ingin menciptakan kelas feodal-elite baru. Ingat saja peristiwa-peristiwa memalukan tentang ijazah-ijazah palsu tempo hari. Padahal, apa gunanya pendidikan kalau hanya melahirkan robot-robot, serunya Masmimar Mangiang. Rendra mengecam pencekokan ilmu-ilmu Barat dengan kaku. Di Paris, 10 tahun yang lalu, dalam wawancara dengan majalah Esquire Sartre mengatakan: “Hakikat intelektualisme harus ditentang.”

Malraux menjawab: sarjana yang merakyat. Bukan yang mengunci diri dalam kotak kaca, bercakak pinggang dan mengendalikan angka di dalamnya, tetapi imporren begitu keluar kotak. Bukan yang menciptakan garis tegas yang melarang orang luar masuk dalam lingkungan pendewaannya terhadap berhala ilmu.

Jadi persoalan utamanya adalah mental. Penempatan diri secara sempit hanya dalam lingkup spesialisasi dijawab dengan adanya studium generale, sehingga kesadaran bahwa menguasai satu ilmu berarti hanya memegang satu tiang penopang kehidupan disadari. Tetapi masih ada persoalan lain yang terdapat dalam diri masing-masing orang menurut dirinya. Apakah mental semacam ini dapat diperbaiki semasa masih menuntut ilmu? Bung Karno dulu mendengungkan character building, dan itulah pertama yang saya maksudkan tidak adanya perasaan terlalu tinggi setelah berilmu.

Mungkin program KKN dapat menjawabnya. Mungkin keaktifan untuk bergerak di bidang sosial semasa masih kuliah dapat juga menjawabnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan