Prisma

Menuju Etos Pekerjaan yang Bagaimana?

I

Salah satu analisa yang paling gemilang tentang arti sosio-budaya pekerjaan manusia kita temukan dalam karya utama filsuf G. W. F. Hegel Phenomenology of Mind. Di dalamnya Hegel berusaha untuk melukiskan bagaimana manusia menyadari diri dengan semakin bulat melalui pelbagai pengalaman yang fundamental. Hegel bertitik-tolak dari suatu skenario dasar manusia, dari keadaan konfrontasi hidup dan mati antara dua pribadi yang mau membuktikan diri. Menurut Hegel manusia membedakan diri dari binatang oleh karena ia beroh. Dan sifat rohani itu hanya dapat dibenarkan dengan membuktikan bahwa seseorang tidak takut terhadap kematian. Maka dua pribadi berhadapan satu sama lain. Konfrontasi ini bisa berakhir dengan kematian satu pihak. Tetapi bisa juga terjadi bahwa akhirnya yang satu menjadi takut dan menyerah. Figur ini menghasilkan suatu bentuk hubungan dasar antara dua orang manusia, yaitu hubungan antara tuan dan budak: yang tidak berani mati menjadi budak dan yang berani mati menjadi tuan.

Inilah tempatnya di mana Hegel membicarakan pekerjaan. Sang tuan memperkerjakan si budak agar ia merubah alam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan si tuan. Karena khawatir akan nyawanya, si budak bekerja demi sang tuan. Ia tergantung dari dia. Namun, dalam pekerjaannya ini si budak mengalami suatu perkembangan. Ia mengalami, bahwa ia sanggup untuk menguasai alam yang dulunya memusuhinya. Dengan bekerja, ia mengembangkan kecakapan-kecakapannya, ia semakin menyadari kemampuan-kemampuannya, ia menjinakkan alam yang ganas sehingga semakin sesuai dengan kebutuhan manusia. Dengan demikian ia membuktikan bagi dirinya sendiri, bahwa ia dapat menguasai hidupnya. Sebaliknya sang tuan lama-kelamaan semakin tergantung dari budaknya. Karena hanya melalui pekerjaan budaknya ia dapat memperoleh apa yang dibutuhkannya demi kelangsungan hidupnya. Maka hubungan yang semula dalam kenyataan telah berbalik: sang tuan menjadi budak dan si budak menjadi tuan. Itulah dialektika pekerjaan menurut Hegel.1

Berbeda dengan Marx (yang langsung menerjemahkan dialektika ini ke dalam realitas politik: sejarah niscaya akan menghasilkan revolusi sosialis di mana kaum pekerja akan menggulingkan kaum majikan2) Hegel tidak mengatakan apa hasil historis dialektika ini. Ia tidak menarik kesimpulan murahan dan tidak meramalkan apakah si budak memang akan memberontak, apakah sang tuan dapat tetap menindas si budak. Justru itu yang menarik pada Hegel: ia menunjukkan struktur nyata daripada hubungan ketergantungan antara dua kelompok manusia. Analisa Hegel memperlihatkan bahwa bisa saja kekuasaan politik berada dalam tangan suatu kelas yang dalam pemenuhan kebutuhannya justru tergantung dari mereka yang dikuasainya. Ketergantungan politik yang diciptakan melalui penindasan—dapat saja berbarengan dengan ketergantungan ekonomis dan vital yang persis kebalikannya—yang diikatkan melalui pekerjaan. Begitu pula jelaslah bahwa kelas tuan mempunyai suatu kepentingan vital dalam kelangsungan pekerjaan si budak, dalam etos pekerjaannya: hanya kalau si budak bekerja dengan baik, si tuan bisa hidup!


1 Bandingkan bagian B. IV. A., “Selbstandigkeit und Unselbstandigkeit des Selbstbewusstseins; Herrschaft und Knechtschaft,” dalam G. W. F. Hegel, Werke 3: Phänomenologi des Geistes, Frankfurt, 1970, hal. 145-155.

2 Lihat terutama dalam The German Ideology, bagian Feuerbach, dan Manifesto of the Communist Party.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan