Prisma

Menuju ke Definisi Ekonomi Post-Robbins*

Ruanglingkup ilmu ekonomi yang sempit dan netral terhadap etika sebagaimana dirumuskan oleh Lionel Robbins, dan karenanya hanya membutuhkan “pemikir kecil” menurut Solow, ternyata tidak mungkin lagi berlaku saat ini. Dalam tulisan ini Profesor Rukmono Markam menelaah perkembangan pemikiran dari kritik terhadap teori neo-klasik, ekonomi Keynesian, sampai kepada telaah perusahaan raksasa dan kompleks industri militer dari Gailbraith dan Seymour Melman. Ia menilai, para ahli ekonomi hendaknya sekarang meninggalkan peranan sebagai “pemikir kecil” dan beremansipasi ke arah peranan yang baru sebagai “pemikir besar.”

Kiranya tidak ada sepatah kata pun dewasa ini yang paling menyulitkan para guru besar dan dosen kecuali kata “relevansi”. Hal ini disebabkan karena para guru besar sejak dulu berhasrat sekali untuk mengangkat ilmu ekonomi menjadi suatu ilmu (science) yang eksak-lebih eksak daripada apa yang dapat dibenarkan oleh materinya. Berhubungan dengan itu mereka selalu berdaya-upaya untuk merumuskan problema-problema dan memilih asumsi-asumsi yang memungkinkan mereka untuk memberikan jawaban-jawaban yang dapat dituangkan dalam suatu bentuk equilibrium yang pasti, determinate dan unik. Akibatnya jawaban-jawaban itu sering bertentangan dengan realisme serta menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sukar diterima para mahasiswa yang sikapnya sangat kritis.

Di dalam dunia ekonomi dan industri kita lihat seperti sekarang ini, di mana unsur-unsur ketidak-pastian, keraguan dan kebetulan (chance) mengambil peranan yang makin penting, ilmu ekonomi di masa depan mau tidak mau harus turut menyesuaikan diri dan lambat laun meninggalkan alam yang lama di mana simple determinateness dari masalah ekonomi merupakan cirinya yang utama.

Pada kesempatan ini akan saya coba untuk mengemukakan beberapa sebab dan alasan mengapa di dalam tubuh ilmu ekonomi pada dewasa ini nampaknya sedang terjadi suatu paradigm shift yang akan mengantarkan kita pada suatu definisi ekonomi yang lebih luas yang membawa konsekuensi bahwa batas-batas pemisahnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya menjadi kurang tegas sifatnya.

Jika kita memperhatikan perkembangan literatur ekonomi, selama, limabelas tahun, yang terakhir ini, nampak pada kita banyaknya, jumlah tulisan-tulisan atau karangan-karangan yang bernada protes yang dilancarkan dari berbagai penjuru untuk menyatakan rasa tidak puas terhadap ilmu ekonomi dan cara-cara pendekatannya pada dewasa ini.1$^1n$ Perasaan tidak puas ini timbul karena teori-teori ekonomi konvensional sebagaimana itu diajarkan sampai sekarang pada umumnya masih bercorak tradisional Barat yang kita kenal sebagai the economics of capitalist market economies dengan ciri-cirinya seperti adanya kedaulatan konsumen, maksimisasi keuntungan, persaingan sempurna dengan usaha-usaha swasta (perusahaan swasta) sebagai unsur-unsurnya. Khususnya di dalam ekonomi mikro neoklasik fokusnya tertuju pada masalah alokasi yang efisien dari sumber-sumber ekonomi melalui sistem harga dan interaksi dari kekuatan-kekuatan permintaan dan penawaran.


* Tulisan ini diolah dari pidato pengukuhan jabatan Gurubesar Ekonomi pada Universitas Gadjah Mada, 19 September 1978.

1 Kritik terhadap ilmu ekonomi antara lain datang dari: Robert L. Heilbroner dan Arthur M. Ford, ed. (Is Economics Relevant?, 1971); Benjamin Ward (Apa yang salah dengan ekonomi?, 1972); Kurt Dopfer, ed. (Ekonomi di Masa Depan, menuju paradigma baru, 1976); Donald N. McClosky (Apakah Masa Lalu Memiliki Ekonomi yang Berguna?, 1976); Gunnar Myrdal (Melawan Arus, 1973); John Kenneth Galbraith (Masyarakat Makmur, 1958; Negara Industri Baru, 1967; Ekonomi dan Tujuan Publik, 1975); Robert Skidelsky, ed. (Akhir Era Keynesian, 1977).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan