Paradigma dapat dipahami sebagai sistem konsep, teori, metode dan pendekatan yang mendasari dan/atau mempengaruhi cara pikir, cara pandang, dan cara mengerjakan sesuatu. Dalam sistem sains dan ilmu sosial, paradigma menduduki posisi yang esensial, terutama jika ilmu dipandang sebagai suatu gugusan sistem, konsep, metode dan cara pendekatan yang mendasari arah dan memandu sikap dalam mengerjakan atau mengamalkan sesuatu, yakni sesuatu yang patut dipilih dengan sikap dan komitmen untuk mengembangkan sains dan membangun manusia. “Ketika paradigma berubah, dunia sendiri berubah bersamanya,” begitulah catatan Thomas S. Kuhn. Selanjutnya dikatakan bahwa,
Led by a new paradigm, scientists adopt new instruments and look in new places. Even more important, during revolutions scientists see new and different things when looking with familiar instruments in places they have looked before… Neverbeteless, paradigm changes do cause scientists to see the world of their research-engagement differently. In so far as their only recourse to that world is through what they see and do, we may want to say that after a revolution scientists are responding to a different world.1
Dalam kaitan ini, para ahli sains dan ahli ilmu sosial yang bersikap dan punya komitmen tinggi terhadap pengembangan sains dan pembangunan manusia merasa membutuhkan paradigma. Kiranya hal tersebut juga berlaku bagi agamawan, ahli filsafat, seniman, budayawan dan teknolog, serta intelektual. Kiranya juga masih longgar diperdebatkan, apakah yang disebut intelektual itu hanya mereka yang bersikap, dan dengan demikian membutuhkan paradigma sedangkan mereka yang tidak berparadigma tidak layak disebut intelektual?
Karya-karya besar dalam sains dan ilmu sosial dibaca, dihargai, dikritik, digoyang, dan dipuji, karena salah satu jiwa utamanya adalah paradigmanya. Lebih-lebih jika paradigma itu membawa sesuatu yang baru — dengan demikian disebut “paradigma baru” yang memperbaiki, merombak, menggeser, menambah, atau melakukan revolusi bagi “paradigma lama” yang telah berkuasa. Begitulah agaknya perkembangan sains dan ilmu sosial berlangsung.
Dalam bahasa Kuhn, “each scientific revolution alters the historical perspective of the community that experiences it, then that change of perspective should affect the structure of postrevolutionary texbooks and research pubilcations.”2 Buku Kuhn tersebut pun — yang nota bene juga membicarakan berbagai jenis paradigma — tak luput dari perbincangan ramai pada tahun-tahun 1970-an dan 1980-an, bahkan hingga kini. Itu tak lain karena paradigmanya berusaha mengubah pandangan, perspektif orang (scientific community) terhadap sains “secara revolusioner.”
Dalam ilmu sosial kiranya kembali boleh diingatkan pentingnya buku yang bermaksud untuk menggeser dan melengkapi tradisi paradigma yang berkembang sebelumnya, dari “pembuktian teori” (verifying theory) ke “menemukan teori” (generating theory). Tradisi sosiologi Columbia University yang dibawa Barney G. Glaser dari ajaran Robert K. Merton dan Paul Lazarsfeld dengan metodologi kuantitatif bertemu tradisi Chicago (1920-an – 1950-an) yang digenggam Anselm L. Strauss dengan down-to-earth qualitative research yang kemudian menghasilkan metode penelitian yang bermaksud untuk menghasilkan teori lebih berdasarkan data kualitatif daripada membuktikan teori dari data kuantitatif. Metode ini kemudian disebut grounded theory.3
Hampir bersamaan dengan itu, model-model thick description dalam etnografi Clifford Geertz di Jawa, Bali dan Maroko (tahun-tahun 1950-an sampai 1970-an), melengkapi metode-metode penelitian sosial yang mengandalkan data kualitatif sebagai pembangun teori dan media penafsiran tentang kebudayaan masyarakat lain.4 Kendati deskriptif kualitatif, statistic figures dan modus-modus penyampaian data lain yang menunjukkan hadirnya analisis kualitatif yang melibatkan survai, tidak haram dalam thick descriptive analysis.
Dengan begitu dapat dipahami ketika Sam D. Sieber dari Columbia University meniscayakan integrasi antara dua methodological subcultures: yang satu mengandalkan data hasil observasi “deep, rich” dan yang lain data survai “hard generalizable.” Lebih lanjut, ditekankan Sieber bahwa
The integration of research techniques within a single project opens up enormous opportunities for mutual advantages in each of three major phases — design, data collction, and analysis. These mutual benefits are not merely quantitative…. but qualitative as well — one could almost say that a new style of research is born of the marriage of survey and fieldwork methodologies”5
Dengan paradigma yang bermaksud mengawinkan metode penelitian kuantitatif dengan metode kualitatif, para peneliti sosial lebih mempunyai banyak kesempatan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang lebih berubah dari penelitiannya.
Kesadaran Peneliti Sosial
Jika sikap peneliti sosial dianggap memberikan sumbangan penting terhadap paradigmanya, dan/atau sebaliknya, maka sejumlah hal yang berkaitan dengan itu dapat dibahas di sini. Pertama, sesungguhnya para peneliti telah menyadari bahwa dirinya bukan bagian dari masyarakat yang diteliti (the outsiders), tetapi kesadaran itu amat jarang membuatnya ingin mengubah kondisi masyarakat yang diteliti, seperti kondisi ketebelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Kedua, dengan demikian kesadaran tersebut lebih merupakan kesadaran profesi, sebagai peneliti, seperti dalam ungkapan Geertz, misalnya, being there, writing here — berada di untuk mengumpulkan data, membawanya pulang dan menganalisanya, selanjutnya menghasilkan etnografi atau laporan penelitian.6 Ketiga, amat jarang — atau bahkan tidak satu pun — dengan serius metode penelitian mengajarkan atau membawa-serta paradigma, tentang bagaimana peneliti harus ikut mengubah kondisi masyarakat yang diteliti.
1 Lihat, Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (Chicago: The University of Chicago), hal. 111.
2 Kuhn, ibid., hal. ix.
3 Lihat, Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss, The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research (New York: Aldine, 1967.
4 Lihat, C. Geertz, The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1973) dan Local Knowledge (New York: Basic Books, 1983).
5 Lihat, Sam D. Sieber, “The Integration of Fieldwork and Survey Methods” American Journal of Sociology Vol. 78, No. 6, 1973, hal. 1337.
6 Lihat, Clifford Geertz, “Being There, Writing Here,” Dialogue, No. 84/2/1989.