
Robert L. Heilbroner, Hakikat dan Logika Kapitalisme, Jakarta, LP3ES, 1991, 152 hal.
Kapitalisme merupakan satu lahan studi yang teramat penting. Pemahaman terhadap berbagai fenomena sosial saat ini mau tak mau harus mengikutsertakan pembahasan tentang kapitalisme. Sayangnya studi tentang kapitalisme di Indonesia ini masih sangat minim. Apalagi muncul anggapan bahwa studi tentang kapitalisme hanyalah monopoli bidang ekonomi politik dan sosiologi. Sementara kajian di bidang pendidikan, sastra, pers, seni, atau kebudayaan di Indonesia banyak melewatkan pembahasan tentang pengaruh kapitalisme yang maha luas dalam berbagai sektor kehidupan di segenap penjuru dunia ini. Sehingga terjemahan buku Heilbroner, yang bisa dibilang sebagai satu pengantar untuk memahami apa itu kapitalisme, layak mendapat perhatian dan sambutan.
Perlu dicatat sebelumnya, walaupun buku ini berjudul Hakikat dan Logika kapitalisme, tapi Heilbroner tidak membicarakan kapitalisme dalam konteks pemikiran dan perdebatan yang lebih canggih di kalangan Marxis atau Marxisme, misalkan tentang kontradiksi yang terjadi di dalam diri kapitalisme itu sendiri, pengaruhnya pada berbagai sektor kehidupan masyarakat seperti seni, pendidikan, dll., atau keragaman mengenai bentuk kapitalisme di berbagai negeri. Heilbroner, ekonom borjuis, hanya memberikan fokus perhatian pada sejarah, ideologi dan logika kapitalisme dalam arti yang sangat umum.
Perilaku Manusia Dalam Sistem Sosial: Tinjauan Psikologis
Pada awal bahasanya, Heilbroner berusaha meninjau perilaku manusia dalam sistem sosial dari dimensi psikologis, yaitu berbagai kekuatan aktif dalam sistem-sistem sosial yang membentuk perilaku dan kapasitas manusia. Sayang Heilbroner sendiri tidak terlalu jelas dan mendalam mempersoalkan hal-hal psikologis ini. Heilbroner merujuk pada teori psikoanalisa Freud tentang dorongan bawah sadar manusia yang digerakkan oleh energi libidinal. Elemen-elemen psikologis seperti fantasi bawah sadar, dorongan-dorongan narsistis dan agresif, konflik-konflik oedipal yang dibawa manusia sejak lahir dan tidak bisa dihapuskan ini merupakan persoalan penting bagi Heilbroner dalam memahami perilaku individu dan masyarakat secara kolektif dalam kapitalisme dan sistem-sistem sosial lainnya.
Energi psikis individu dan perilaku sosial Freudian dijadikan pedoman untuk mengerti fenomena-fenomena dalam masyarakat. Misalkan teori utama Freud tentang bertahannya watak ketergantungan bayi terhadap ibunya yang tidak dapat terpuaskan sampai ke masa dewasa serta idealisasi orangtua pengganti bagi Heilbroner memberikan wawasan pada terjadinya penciptaan secara universal perbedaan prestise sosial; penyerahan diri ke dalam berbagai upacara serta kepercayaan masyarakat. “Hakikat manusiawi” ini tidak ditinjau Heilbroner secara tuntas dan memuaskan.1
Persoalan mendasar yang terpenting dan terlewatkan dari kajian psikologis Heilbroner ini adalah tidak dipersoalkannya “fetisisme komoditi” yang begitu kuat dalam masyarakat kapitalis. Mengapa manusia menjadi serakah pada era ini? Mengapa materi menjadi berhala pada masyarakat ini?
Fetisisme komoditi merupakan relasi sosial tertentu antar manusia yang mendasarkan pada satu bentuk relasi antar benda. Fetisisme dalam relasi antar manusia ini, bagi kalangan Marxis, merupakan relasi dominasi dan perbudakan. Ini diambil dalam pengertian Hegelian tentang “master” dan “slave.” Relasi fetisisme ini sebenarnya merupakan satu displacement dalam masyarakat kapitalis, di mana relasi dominasi dan perbudakan direpresikan dan digantikan oleh bentuk relasi hegemonik yang berbeda wujudnya. Secara formal yang terlihat adalah realita di mana subyek melakukan hubungan interpersonal. Sedangkan dominasi dan perbudakan yang sebenarnya tetap ada (direpresikan) itu muncul dalam simptom ideologi (subversif) seperti kebebasan, persamaan, dan sebagainya.2
Jadi kalau pada masyarakat tradisional hubungan dominasi dapat dilakukan dengan membungkusnya dalam norma atau perintah-perintah sakral, sedang dalam masyarakat kapitalis relasi dominasi ini berwujud dalam bentuk komodifikasi. Dalam pengertian ini, hakekat masalah yang kurang lebih sama dan mungkin sukar terjawab adalah mengapa segelintir orang ingin menguasai mayoritas?
1 Ada beberapa ahli yang sebenarnya memberi penjelasan yang lebih memadai tentang kepribadian dan perilaku manusia dalam struktur sosial. Erich Fromm, psikoanalis humanistik dari kelompok Frankfurt, banyak mempersoalkan relasi manusia yang produktif dan non produktif, beserta akar-akar penyebabnya. Dalam hal ini Fromm memberi analisa kualitas manusia sebagai produk dari dua sistem ideologi dan sosial berbeda, yaitu dalam kapitalisme dan komunisme. Dalam tipologinya, Fromm mencirikan manusia modern yang merupakan produk kapitalisme sebagai tipe karakter pasar atau marketing character type, di mana manusia modern yang memandang hubungannya dengan manusia lain sebagai komoditi dan obyek, lihat Erich Fromm, The Sane Society (New York: Rinehart & Company, 1955).
2 Lihat Slavoj Zizek, The Sublime Object of Ideology (Verso, 1989), hal. 23-26.