Masuknya berbagai macam perusahaan patungan dalam industri pengalengan ikan yang membutuhkan ikan mentah dalam jumlah besar di Irian Jaya, ternyata berpengaruh terhadap pola pelapisan sosial-ekonomi masyarakatnya. Kasus industri pengalengan ikan cakalang di Jayapura menunjukkan dampak ekologis, sosial, ekonomi, yang sekaligus mengakibatkan perubahan pola hubungan antargolongan sebagai akibat penguasaan teknologi yang berbeda antara satu etnik dengan etnik yang lain.
ADA pendatang baru yang saat ini sudah melirik dari balik cakrawala industri perikanan yang berkembang pesat di Irian Jaya. Sebuah perusahaan patungan telah dibentuk antara perusahaan Norwegia, Ticon Bygg A/S, dan PT Merdeka Jaya dari Indonesia, untuk mengalengkan ikan cakalang di Jayapura, Irian Jaya. Menurut buletin resmi promosi bisnis Indonesia, Indonesian Development News, September-Oktober 1988, uji coba produksi PT Indonor yang investasinya berjumlah US$ 14 juta ini dijadwalkan mulai Desember 1989 yang lalu, sedangkan skala operasi penuh mulai bulan Maret 1990. Produksi tahunan perusahaan ini diproyeksikan mencapai 10.000 ton cakalang kaleng dan 5.500 ikan segar dan ikan tak bertulang. Semua produksi dimaksudkan untuk diekspor ke Norwegia atau Jepang.
