Negara begitu nyata namun sekaligus begitu misterius. Negara nyata terutama dalam kekerasan yang “sah” yang harus diterima dalam keadaan apa pun. Kekerasan bisa dalam bentuk yang sangat kasat mata. Dalam hubungan ini, tidak ada kekerasan yang lebih hebat daripada kekerasan yang menyentuh dan menimpa tubuh seperti penangkapan, pengurungan, pemukulan, penyiksaan, pembunuhan, dan pembantaian. Kekerasan selalu meningkat dengan peningkatan modusnya, baik kualitatif maupun kuantitatif; dua hal itu selalu berbanding lurus.
Negara juga sangat nyata ketika para warganya merasakan keharusan berhadapan dengan berlapis-lapis birokrasi hanya untuk mendapatkan sepucuk tanda tangan yang tanpa itu tidak ada kegiatan apa pun bisa dilaksanakan. Dalam hal kekerasan, Orde Baru contoh terbaik, dan dalam arti berlapis-lapis rintangan merupakan pengalaman hampir tanpa akhir dalam birokrasi yang bisa dikatakan sebagai “diasak layu, dicabut mati”—perubahan sepertinya haram.
Pendidikan tak ayal meningkatkan kemampuan berpikir dan keterampilan dan banyak hal lain lagi. Di pihak lain, bagaimana memaknakan penemuan bahwa sistem pendidikan, agama, misalnya, adalah alat halus, ideologis sifatnya, yang dipakai negara untuk menindas di satu sisi dan melanggengkan kepatuhan di sisi lain. Ujian nasional yang dipertahankan mati-matian dan menjadi “harga mati” adalah salah satu petunjuk ke sana. Unsur misterius terletak dalam paradoks besar bagaimana mungkin lembaga baik menjadi agen keburukan.