Prisma

“Mereka” dan “Kita”

Seorang pejuang terpandang Afrika, Patrice Lumumba pernah mengutarakan relung hatinya bahwa “…pada suatu hari sejarah akan berbicara, tetapi sejarah itu bukanlah sejarah dari apa yang mereka ajarkan di Brussel, Paris, Washington atau bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi sejarah yang diajarkan di negeri yang telah membebaskan diri dari kolonialisme dan kaki tangannya. Afrika akan menulis sejarahnya sendiri, dan sejarah ini, baik di Utara maupun di Selatan Sahara akan merupakan sejarah dari kejayaan dan kebesaran.”

Seorang sastrawan terkemuka Indonesia dalam sebuah konferensi pada tahun 1950’an pernah mengatakan, “… kita ini dilahirkan oleh sejarah. Tetapi kitapun akan melahirkan sejarah, setidak-tidaknya turut melahirkan. Sedihlah mereka-mereka yang menyadari dari hal ini, dan berbahagialah mereka-mereka yang menyadarinya. Tetapi kesadaran bahwa kita ini sekaligus adalah anak dan ayah sejarah, meletakkan ke atas pundak kita tanggung jawab yang sama sekali tidak kecil, Tetepi haruskah kita mundur menghadapi tanggung jawab yang besar?”

Kedua ilustrasi tersebut dapat dipakai sebagai perumpamaan riwayat negeri yang menamakan dirinya Indonesia. Rujukan pertama mengacu pengharapan dan ketegaran yang akhirnya harus mati dihajar “kolonialisme dan kaki tangannya” atau oleh sejarah yang “belum dibuatnya,” maka kutipan kedua lebih merupakan takdir setiap manusia untuk membuat dan meninggalkan jejak sesuai dengan tanggungjawabnya. Keduanya mempunyai persamaan dalam artian “mereka” atau “kita” tidak sekedar kata-kata kosong. Keduanya merupakan penegasan identitas masing-masing pihak. Konteks melahirkan “anak-anak dan ayah jaman” sehingga peninjauan ulang identitas menjadikan setiap zaman berbeda-beda memperlakukan sasaran, tugas pokok, kekuatan pendorong sampai tenaga inti pematang dan pengubah sejarah.

Sejarah perkembangan masyarakat Amerika Latin, Eropa, Asia, Amerika Serikat, Afrika, dan Australia memang memiliki tingkat kemajuan yang tidak sama. Titik berangkat masing-masing kawasan tidak sama, apalagi wilayah di dalam kawasan itu. Namun, yang jelas perkembangan mereka telah menjadi “sebuah” sejarah. Sejarah tidak pernah berhenti, sekalipun manusia mencoba menghentikannya. Karena itu makna sejarah adalah perubahan yang mengarahkan pada kemajuan dan memberi hakekat pembebasan manusia .

Masuk ke dalam sejarah Indonesia dan historiografi-nya sangat beragam. Penulisan biografi tokoh yang belakangan ini semakin menjamur salah satunya merupakan jalan pembuka mengenali diri sang tokoh bersangkutan dengan lebih baik. “Dengan lebih baik” karena dalam biografi tersebut kesan yang pasti membekas dari tokohnya sendiri adalah “kelayakan” positif yang bisa diwariskan pada penerus. Layak atau tidaknya akhirnya ditentukan oleh proses politik. Sejarah kemudian menjadi sesuatu yang membelenggu makna kekinian dan masa depan.

Hal demikian sangat erat berkaitan dengan pengertian lokal, nasional, minoritas, mayoritas, dll. Ini bukan hanya persoalan “mereka” dan “kita” seperti yang diserukan para pejuang dahulu. Kini yang tertinggal adalah bagaimana mempersatukan peran “mereka” serta “kita” yang tersisa dalam wadah yang sudah disepakati bersama untuk tetap berjuang di dalamnya. Bila itu ditulis maka perspektif kesejarahan masing-masing diharapkan dapat mengisi kotak puzzle yang memang tidak akan pernah cocok dan tampaknya tidak selalu terisi penuh. Sejarah lokal tidak mungkin menghindarkan diri dalam penyerapan sejarah yang bersifat nasional. Di sini kemampuan lokal untuk dianggap sebagai nasional akhirnya menjadi tantangan tersendiri.

______________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Pemasaran/Distribusi: Anda Z. Noerzy, M. Sholeh: Iklan: Arys Sutarman; Produksi: Bambang Soetedjo, Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon Redaksi: 5663525, Pemasaran/Iklan: 5663527; Umum: 5667139, 5667141,5674211; Fax.: (021) 5683785; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11420. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 14.0010.2.003, Pencetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan